Kenalin gue Chris Sebastian, sering dipanggil Bastian, tinggi badan gue kira-kira 176 cm dan gue suka yang namanya balap motor.
Usia gue kini menginjak 20 tahun, sekarang gue tinggal di Bandung dengan bokap gue, Karena apa orang tua gue bercerai saat gue berusia 17 tahun dimana gue sudah mulai memahami kehidupan dikeluarga gue, orang tua gue sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing membuat gue selalu terkena imbas saat nyokap gue pulang kerja, bokap yang menuduh nyokap gue selingkuh dengan teman kantornya, bokap yang sering pulang malem dan masih banyak alasan lainya. Bagi gue hidup serba ada seperti ini membuat gue bahagia sendiri seolah ini adalah dunia gue dan dimana pertengkaran selalu menghantui gue disitulah neraka bagi hidup gue. Gue memiliki bola mata biru cerah bisa bayangin kan, rambut gue ikal tebal warna kecoklatan, kalau dibilang cool bisa jadi tapi bukan gue sombong memang kenyataan keadaan gue.
Gue tahu kalian para pembaca penasaran dengan tampang gue, bener ngak gaes, haha.., gue itu orang nya urakan dan masih banyak lagi oke kembali ke hidup gue.
Gue tak pernah tahu dari mana dan sampai kapan gue akan seperti ini, akankah gue akan hidup 1000 tahun lagi untuk merubah diri gue atau gue akan diam menunggu perubahan dalam hidup gue, ini bukan tentang cinta yang abadi dan bukan rasa yang akan gue miliki namun ini adalah kisah perjalanan hidup yang entah kapan akan berhenti,
Gue yang pernah terjerat obat-obat terlarang dan semacamnya membuat gue semakin percaya kalau hidup gue memang diberikan kepada gue untuk menyaksikan orang tua gue bercerai dan meninggalkan anak semata wayangnya.
Gue memang tak begitu peduli tentang mereka berdua orang tua yang selalu bertengkar tak pernah gue hiraukan, oke dari pada gue membahas orang tua gue pisahan mending gue lanjut ceritain diri gue sendiri. Gue salah satu mahasiswa disalah satu universitas dan jangan salah gue kuliah hanya bisa menghambur-habur kan uang orang tua gue, gue yang suka balapan liar, dan suka taruhan sama geng balap liar lainya, tapi satu hal yang perlu loe ketahui tentang diri gue, bukan cuma suka balap liar tapi gue juga selalu bisa berbohong memanipulasi semua kegiatan gue buat apa, kalau ngak mengecoh orang tua gue sendiri. Dan sinilah gue akan menceritakan kehidupan gue dari mana gue akan memulai yang gue tahu, gue hanya pengen kalian mengerti betapa penting kehidupan sebelum adanya cinta yang bersemi dihati manusia, cie....puitis banget gue, jadi mellow gini.
Beberapa hari lalu gue merasa seakan mati karna saat itu gue overdosis minuman keras dan gue seakan berpikir berakhir sudah hidup gue, karena gue kebanyakan minum minuman keras membuat gue tak sadarkan diri saat itu gue benar-benar frustasi dan hampir putus asa, karena orang tua gue yang sering berantem membuat gue tak merasa betah di rumah, dan disitulah gue juga menelan obat-obatan terlarang juga,tapi gue beruntung tuhan masih mempercayai gue buat bertaubat tapi masih aja gue lakuin tu maksiat namun tiba-tiba saat gue tersadar dari pingsan, mata gue sayup-sayup melihat seorang wanita, kelihatannya berbeda dengan cewek-cewek diluaran sana gue menganggap dia adalah malaikat penyelamat gue dan itu bisa jadi, mau tahu dia siapa?,asal nya dari mana dan dia itu benar-benar malaikat atau apa?, ikuti kisah gue sampai selesai ya gaes
see you....
Part 1
Broken Home
Malam menjelang seperti biasa kehidupan gue sekarang hampa tanpa nyokap dirumah tapi ada untung nya juga karena ngak ada suara pertengkaran lagi saat bokap gue pulang kerja,
Jam menunjukkan pukul 9 lewat 10 gue mengeluarkan sepeda motor dari garasi bersiap buat balapan malam ini, bokap gue entah kemana entah dia kerja atau lagi bersenang-senang di luaran sana. Setelah memanasi sepeda motor, gue langsung tancap gas menuju tempat perlombaan liar.
"Woy bro baru dateng loe kemana aja?!" teriak suara dari belakang badan gue sembari menepuk bagian pundak.
"Wah elo bro, iya gue tadi mandi dulu terus tancap kesini lagian juga ngak ada bokap dirumah jadi gue santai haha" tawa gue rupanya mendatangkan seorang wanita yang juga ada ditempat lomba.
"Bas, loe kali ini harus menang yah semangat,oke?". Gue tak menjawab satu patah katapun dari cewek sexy, berambut panjang itu. Mau tahu dia siapa?, gue bakal jabarin dia siapa, namanya Khaniva Setianingrum, bagus sih tapi bukan tipe gue, dia punya sorum disekitar tempat lomba balap ini entah siapa aja yang suka dateng ke sorum dia malam-malam, usianya lebih muda dari gue, beda setahun mungkin, dia terlihat masih lugu, cantik dan berwibawa tapi itu anggapan yang salah, dia cewek yang bisa terbilang cewek nakal suka mainin perasaan cowok, dengan kecantikannya siapa sih ya ngak tergoda sama penampilannya.
" Woy...ngalamun aja loe Bas?!",teriak laki-laki separuh baya ngagetin gue disaat hal yang penting.
"Ah elo gimana udah mau mulai acaranya?", tanya gue singkat, dan yang ini temen gue yang selalu support gue, bisa jadi dia adalah sohib gue karna gue selalu sama dia tapi ada lagi temen yang laen temen gue yang pertama namanya Zidan dan yang barusan tanya ke gue namanya Leonard, gue bakal jabarin keduanya mulai dari temen gue yang namanya Zidan.
Zidan adalah anak juragan di kota Bandung ini, sebagai anak semata wayang bokap sama nyokap nya Zidan diberi kebebasan untuk bergaul dan bebas berpenampilan, bebas buat bersenang-senang, and masih banyak lagi, Zidan memiliki tinggi badan 178 sedikit lebih tinggi dari gue, matanya tajam berwarna hitam kecoklatan, rambutnya pirang seperti disemir tapi aslinya memang pirang dan tebal, Zidan saat ini kuliah hampir semester akhir, Zidan punya banyak banget cewek mungkin bisa jadi seantero kampus dia pacarin tapi bodohnya ceweknya mau aja dikibullin sama Zidan atau malah cewek-ceweknya ngak tau jadi bahan kesenangan dia doang, yang gue pernah kenal salah satu cewek nya namanya Aqilla gibranindia entah dia berkebangsaan mana yang gue tahu dia saat ini berkuliah di salah satu Universitas di Jakarta.
Dan sobat gue yang kedua namaya Leonard tampan,cool, suka olahraga selain itu dia juga suka yang namanya motor gede, orang tuanya blasteran LA, makanya anaknya juga blasteran, nyokapnya berasal dari Indonesia asli and bokap nya berkebangsaan LA, jangan tanya tentang agamanya, dia masih tetap beragama islam and bokap yang dulunya nonmuslim kini mau berpindah agama menjadi islam. Leonard memiliki tubuh fit, kencang,berotot rambutnya hitam sedikit merah bukan karena semir tapi aslinya kali dari bayi.
Leonard lebih suka bercanda dari pada marah ngak jelas, pipinya ada sumur dalam alias lesung pipit yang membuat nya manis lebih manis dari gula mungkin kalau ada cewek yang liat dia senyum untuk pertama kalinya gue yakin pasti langsung klepek-klepek.
Kira-kira itu lah penjabaran dari kedua sohib gue tapi jangan salah gue juga tampan ngak kalah dari mereka berdua.
"Okey....gaes lomba akan segera dimulai nih siap-siap digaris star gue hitung mundur yah....!". Suara Khaniva sudah membelah seantero kebisingan dijalan raya, gue menyusulnya ke garis star, setelah sampai disana gue melihat Zidan sedang asik memeluk Khaniva dan mencium kening nya. Tiba-tiba gue terlintas berfikir rupanya Khaniva juga jadi selingkuhannya, gila tu bocah ya! Batin gue nrocos sendiri.
Setelah beberapa jam lomba balap motor akhirnya selesai juga, dan masih tetap Leonard yang jadi pemenang pertama, emang masih kalah jauh kalau dibandingin sama gue yang masih stand by diurutan ke 2. Tapi gue tak mempermasalahkan itu karna gue cukup senang dengan keberhasilan gue saat ini.
" Selamat gaes...loe menang lagi!", ucap gue sembari menyulurkan tangan.
Diikuti juluran tangan leonard."Haha...masih tetep biasa aja kali Bas kayak sama siapa aja loe?!" sembari membuka helm nya setelah menerima jabat tangan gue.
"Ya udah yuk pulang capek gue!" tawar Leonard ke gue.
"Kali ini gue nginep dirumah loe boleh gak ?" gue meminta ijin Leonard untuk nginep dirumahnya.
"Lah emang bokap loe kemana Bas?" tanya Leonard sembari memicingkan kelopak matanya.
"Ah biasa lah bokap ngak ada dirumah, setelah pisah sama nyokap, bokap gue sekarang jarang pulang kerumah", gue menjelaskan.
" Ohhh...yang sabar loe, jadi anak laki-laki harus kuat Bas, lagian nie mungkin bokap loe lagi pengen cari pengganti nyokap loe kali?", ujar Leonard lagi seraya bangkit dari duduknya.
"Ya udah pulang yuk ntar loe makan dirumah gue aja", akhirnya gue diajak pulang juga sama Leonard hehe.
" Gaes gue sama Bastian pulang dulu...selamat bersenang-senang yah...Haha...!" setelah pamit meninggalkan tempat lomba balap, gue mengikuti sepeda motor Leonard dari belakang.
Tak harus menunggu sampai berjam-jam, gerbang rumah Leonard sudah terlihat didepan mata, gue mengikuti langkah kaki Leonard setelah memasuki pelataran dan memasukkan sepeda motor ke garasi.
"Bas, Loe gimana nih?". Suara Leonard memecah kebisuan heningnya malam.
" hemm..gimana apa nya?", gue merasa aneh dengan pertanyaan Leonard.
"Ya loe emang ngak ngrasa kangen gitu sama nyokap loe?", tiba-tiba hati dalam diri gue nyesek dengar pertanyaan Leonard."Yah elo ma kayak ngak tahu gue aja, lagian nie ya dari pada gue depresi mending gue buat heppy aja kenapa orang tua gue yang pisahan kenapa gue yang harus pusing mikirin mereka berdua?!", meski begitu gue tetep berusaha santai, seperti tak pernah ada masalah dalam kehidupan gue.
Seorang lelaki jantan tak luput dari kekhilafan, seperti gue yang berusaha menutupi segalanya." Bas..loe mau makan apa?", Leonard menganti topik pembicaraan."Biasa aja kali kayak sama siapa aja, gue tu temenan sama loe udah lama kali", tanpa menjawab pertanyaan Leonard menggaruk rambut kepalanya berlalu meninggalkan gue di ruang tamu.
******
Setelah tadi malam asik dengan perbincangan dan games masing-masing, gue baru tahu kalau orang tua emang lebih berarti dari segalanya tapi, kalau berujung perceraian mana bisa gue bahagia diatas penderitaan mereka.
Rumah terasa sepi tanpa nyokap dan bokap yang selama ini gue tahu, mereka selalu bertengkar satu sama lain, tak menghiraukan gue yang ada dirumah.
Sekarang gue menjalani hidup tanpa nyokap tapi gue masih beruntung masih bersama bokap saat ini.
"Bas, papah pergi kerja dulu, kamu kuliah yang bener jangan main aja kerjanya!",
" iya pah iya..." gue menjawab singkat, sembari menuruni anak tangga.
Mencomot sepotong kue diatas meja makan, seraya gue langsung pergi menuju garasi untuk memanaskan sepeda motor . Tak lama setelah itu gue pergi meninggalkan rumah, menarik kencang gas sepeda motor, menyalip kendaraan lain yang ada didepan dan samping motor gue, tepat berhenti di lampu merah gue menurunkan kecepatan, meski gue anak brandal kalau udah urusan beginian ya mau ngak mau harus berhenti.
"Bas, sendirian aja loe?", suara dari dalam mobil lamborjini disamping gue terasa tak asing lagi.
" Wah bener kan tu Zidan, tumben pake mobil?" gue berpikir sejenak.
"Haha...iya Zid loe tumben pake mobil kemana motor loe?", gue iseng tanya-tanya. " hehehe...biasa motor lagi dipermak lagi haha...", jawabnya slengean. "Wah jadi baru lagi dong?",tanya gue terakhir sebelum lampu merah berubah jadi lampu hijau.
Perlahan mobil-mobil kembali menaikkan kecepatan gas masing-masing. Tanpa Zidan menjawab pertanyaan gue, dia sudah duluan menyalip gue.
Gerbang kampus sudah gue lewati sesaat setelah memarkirkan sepeda motor gue liat Zidan sudah berada di taman bersama seorang cewek, pikiran gue langsung menuju ke negativ thingking pasti lah itu selingkuhannya.
" Woy...liatin apa loe, benggong kayak sapi belum dikasih makan aja loe?!", suara Leonard memasuki celah kedua telinga gue.
"Dasar kampret...ngagetin gue aja loe?!" gue sok kaget padahal gue udah tau kalau dia yang nyamperin gue.
"Liatin apa an sih Bas?" Leonard penasaran.
"Lagi liatin temen gue yang lagi eror!" gue menjotos pelan bahu Leonard, tanpa menyebut nama Zidan. "Ya udah masuk aja ntar kan ada dosen killer", Leonard menarik lengan baju gue, gue rasa Leonard belum melihat apa yang gue lihat barusan.
Jam pertama kuliah gue disi sama dosen killer yang bikin gue suntuk ngak karuan. Namanya pak Hasyim orang nya tegas, berkumis tebal,rambut pasti nya hitam, lagaknya sok berwibawa, tapi aslinya ngak sama sekali, galak, kalau udah masuk bukannya langsung ke materi pembahasan tapi suka curhat duluan, ngak bisa kalau pak Hasyim ini diberi waktu setengah jam pasti yang ada materi jadi ngak karuan kemana-mana.
Terdengar langkah sepatu mengetuk lantai membentuk nada menghampiri pintu kelas gue, yang benar aja pak Hasyim datang dengan membawa setumpuk buku." Pagi semua, sekarang ulangan!",
Sontak semua kaget. "Pak yang benar aja dong masa ulangan kayak anak SD aja, hahah?!" suara temen sekelas gue membangunkan macan yang tidur,
tanpa menjawab pak Hasyim langsung menghampiri temen kelas gue, "kamu..keluar...!" sentak pak Hasyim tepat disamping gue padahal orangnya ada dibelakang gue tapi kenapa gue yang kena coba, "gila nie dosen" gue ngomel sendiri.
"Baik semuanya bapak ada curhatan nie, kalian mau dengar?" jangan menjawab tidak karena bapak tak suka jawaban tidak, oke bapak mulai dari pertama cerita bapak!". Belum juga dijawab sama muridnya udah nrocos mulu kayak kereta batu bara, menguap.
Satu jam kami mendengar ocehan pak Hasyim, rasanya sudah berjam-jam kami mendengar ceramah ngak bermutu dari mulutnya itu.
"Keluar yuk?" suara Leonard membisik ditelinga gue, tanpa jawaban gue mengangguk tanda setuju.
"Pak ijin keluar sebentar ya?", gue sok polos padahal mau bolos. " iya iya sana cepetan keluar nanti keburu keluar lagi pipis nya?!" jawaban Pak Hasyim membuat seantero kelas ketawa. Gue dibikin malu sama pak Hasyim kurang ajar banget tu dosen!, omel gue dalam hati. "Hehehehe...yang sabar ye....maapin gue loe jadi malu dech gara-gara gue hahah....!", Leonard masih ketawa sampai di luar pintu kelas.
Akhirnya gue sama Leonard bolos pelajaran pak Hasyim, kami berdua memutuskan nongkrong ditempat biasa, dengan minuman yang biasanya gue teguk, dan cemilan seadanya.
" Le...loe ngak punya cewek ?", gue membuka mulut seraya membenahi duduk gue.
"Hah?, cewek?, kenapa tiba-tiba loe nanya kayak gitu Bas?", Leonard memicingkan sebelah matanya." ya tinggal jawab aja kenapa?" gue menatap Leonard." Gue pernah punya cewek tapi..." Leonard menghentikan ucapannya." Tapi kenapa Le?", gue semakin penasaran. "Dia udah meninggal", jawaban Leonard seperti lemas tak berdaya." Kok bisa kenapa?" gue masih mendesak Leonard biar dia mau cerita, "dia kecelakaan Bas", kata-kata terakhir Leonard seakan menusuk tulang rusuk gue. " Loe yang sabar besok juga ada gantinya!", gue kembali memberi support biar ngak keinget terus sama ceweknya yang udah meninggal itu.
Hari sudah hampir sore, hujan gerimis menguyur kota Bandung, tapi gue masih duduk manis, tanpa menghiraukan hujan tiba. "Bas gue tidur dulu bentar loe jangan kemana-mana awas kalau loe ninghalin gue pas gue bangun nanti!", ancam Leonard ke gue. " Emm ya lah mana mungkin gue tega ninggalin loe sendirian disini,udah sana tidur keburu hujan reda ntar ngak jadi tidur malah ajak pulang lagi!", gue melongok kearah Leonard. Ngak sangka dia udah nyenyak padahal baru aja ngobrol sama gue.
Gue mengela nafas, sekarang gue kembali binggung mau ngapain kalau udah ngak ada temen ngobrol. Yang pasti gue benggong kayak sapi kurang makan.
"Emmm...wahh....Bas, loe masih disini kan?!", Leonard terbangun dari tidur nyenyaknya. " loe udah bangun?", "ya udah lah kalau belum mana mungkin gue ngomong gini, pertanyaan loe aneh haha...", Leonard membenahi rambutnya yang acak-acakan. " Gila, loe tadi cepet banget tidur nya?", gue heran karena baru pertama kali gue memergoki Leonard tidur secepet itu. "Ah udah ngak usah dibahas, pulang yuk?!" ajak Leonard. "Enak ya loe baru bangun udah ajak pulang aja, gue yang dari tadi benggong kayak kerbau belum makan, loe asik-asikkan ngimpian apa an loe?!", gue ngomel sendiri. " Ya lagian loe orang temennya tidur loe kenapa ngak ikutan?" Leonard membalikkan kata-kata gue ke-skak deh gue.
"Ya udah ayok mumpung udah terang ntar kemaleman lagi!", Gue bangkit dari duduk diikuti Leonard yang masih setengah sadar.
Jam masih menunjukkan pukul 16:30 hari sudah sore banget, dan gue masih berada dijalan raya. " Ampun deh macet nya!", Suara Leonard terdengar dari belakang sepeda motor gue.
Kemacetan memang sering terjadi pada saat jam-jam seperti ini. Banyak yang pulang, dan pergi seperti gue yang mau pulang kejebak kemacetan. Bikin bed mood hari gue aja.
Setelah sekian lama menunggu jalanan akhirnya gue bisa juga keluar dari gerombolan kemacetan itu. Rumah gue sama Leonard tak searah jadi gue pisah dipersimpangan jalan. Tanpa menunggu aba-aba Leonard, gue langsung tancap gas ke rumah gue.
Digerbang nampak sepeda motor warna merah, dengan helm yang tak begitu gue kenal, gue berpikir apa dia nyokap gue?, tumben inget anak nya?, atau dia wanita simpanan bokap gue?, atau siapa?. Gue masih mengira-ngira di dalam ada siapa yang gue tahu bokap gue masih belum ada dirumah kalau jam segini.
Gue memutuskan masuk tanpa rasa curiga meski tadi sempet menduga-duga.
"Bas..baru pulang nak?", suara lembut itu gue kenal saat gue berada didalam ruangan tak satu pun yang nonggol tapi dari belakang badan gue, suara itu, nampak jelas.
Gue membalikkan badan ternyata benar itu nyokap gue.
" Iya mah, tumben mamah kesini?", gue masih dengan nada datar. "Nak, kamu udah dewasa, kamu berhak memilih siapa yang akan menjadi panutan kamu, mamah mu apa papah kamu itu yang nggak jelas", mamah dengan langkah gontai mencoba menghampiri gue.
" Stop mamah disana aja, Bastian juga udah seneng kok hidup sama papah disini, lagian papah juga ngak melarang mamah buat nengok anaknya kan?", suara gue naik satu tangga nada.
"Yang harus kamu tahu nak",
" Tunggu...!" tiba-tiba bokap dateng dan menghentikan penjelasanya. "Mau apa lagi kamu kesini?!" bokap gue seakan naik darah. "Pah yang harus nya sadar itu papah, bukan mamah!", nyokap gue nggak mau kalah, entah siapa yang akan menang sekarang gue tak akan menimbrung perkelahian mereka berdua.
" Mamah yang nggak pernah ada waktu buat anak, buat papah, yang ada dipikiran mamah hanya uang, pekerjaan bahkan mamah juga selingkuh dibelakang papah!", syara bokap gue semakin keras.
"Yang selimgkuh itu papah bukan mamah, yang ngak ada waktu buat mamah sama Bastian juga papah, kalau memang papah ada waktu buat keluarga kenapa sekarang baru pulang?, dari mana aja pah?!", nyokap gue menahan isak tangis.
" Sudah cukup!,mamah sama papah kenapa sih ngak pernah bisa akur?!, Bastian itu udah gede mah, pah, bisa nentuin kesenangan Bastian sendiri!", gue memotong percek-cokan mereka berdua.
"Nak, mamah ada bukti kalau papah kamu memang salah", sembari mengambil barang bukti dari tas kecil nyokap menyeka air matanya.
Saat gue tahu itu bokap gue yang selingkuh,gue langsung memeluk nyokap gue, dimana setelah sekian lama gue membenci nyokap gue sendiri.
" papah Bastian kira papah orang baik ternyata busuk mulai sekarang Bastian mau ikut mamah pergi dari rumah kalau, saat ini mungkin Bastian merasa risih, punya papah yang hoby selingkuh, nyakitin istri sendiri, dan mulai sekarang Bastian ngak mau lagi tinggal sama orang yang sudah membuat keluarganya hancur!".
Mungkin inilah keluarga dimana masa kebenaran akan terungkap dengan sendiri nya menunggu waktu yang tepat. Akhirnya tanpa kata-kata lagi gue dan nyokap gue meninggalkan rumah bokap yang besar itu. Tanpa gue hiraukan lagi barang-barang yang ada didalamnya, belum sempat bokap gue menjelaskan itu sudah cukup buat bukti-bukti yang diberikan sama nyokap beberapa menit lalu.
********
Hari berganti seakan gue masih merasa bersalah sama nyokap gue sendiri karna gue yang terbawa emosi tak peduli kanan kiri, omongan yang gue tangkep gue keluarin lagi, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, tapi sekarang gue berpindah tangan hidup gue seakan berubah 100 drajat, bukan hobby gue, tapi kehidupan gue sekarang dirumah baru nyokap gue.
"Bastian... Kamu nggak kuliah ini udah siang,bangun!", suara lembut nyokap gue saat membangunkan gue, padahal gue udah bangun dari kapan gue gak tau.
" Iya mah ini udah bangun, lagian Bastian udah biasa bangun jam segini", gue belagak sok, padahal baru pertama ini gue bangun jam segini.
"Mah,maafin Bastian ya kalau selama ini Bastian udah berburuk sangka sama mamah", gue memberanikan diri buat minta maaf sama nyokap gue. Meski gue laki-laki harus bisa gentel men dong, " iya mamah udah maafin Bastian kok,lagian mamah tau kalau seorang anak itu bisa memilih siapa yang benar meski belum tahu kebenarannya udah sana, makan terus berangkat kuliah", nyokap gue masih bersikap seolah tak pernah ada masalah dalam hidupnya.
"Ya udah Bastian pergi dulu", gue tanpa basa-basi lagi langsung menuju garasi dan seperti biasa gue memanasi motor setelahnya langsung tancap.
Pagi begitu dingin seakan sinarnya enggan untuk menyinari seluruh bumi, rasanya seakan semua berhenti sejenak untuk sekedar menghangatkan tubuh. Gue pun begitu sebelum sampai di Kampus gue berhenti sejenak diwarung kecil dekat Kampus gue, jaraknya sekitar 60 km, gue duduk dan memesan secangkir kopi susu hangat, dan beberapa makanan ringan. Tak begitu lama gue duduk, menghabiskan secangkir kopi susu dan langsung menuju tempat gue menuntut ilmu, ya begitulah hidup seakan berputar seperti roda berjalan.
" Bas loe kemana aja kenapa nggak dateng tadi malem ke tempat balapan?", suara Zidan menmbuyarkan lamunan gue. "Lagi males gue, kenapa kok loe tumben nonggol?", tanya gue sedikit serius. " Yah elo ngak tau loe", "ngak tau apa ngomong aja loe lagi sama cewek-cewek loe kan?, loe tu temen gue ngak sih?, saat gue butuh temen yang ada cuma Leonard doang!"
loe kemana aja hah, selama ini loe tenenan sama gue mana ngak pernah sedikitpun ngerasain penderitaan gue?!", gue merasa jengkel dengan sikap Zidan yang sok perhatian sama hidup gue.
" La kenapa loe yang marah itu cewek, cewek gue kali bukan cewek loe!", bentak Zidan. "Heh kenapa pada ribut jam segini bukannya ngobrol yang baik malah kayak anak SD aja?!", Leonard untung langsung dateng melerai gue, kalau nggak, udah gue sikat tu Zidan.
" Loe Zid, kenapa lagi?", tanya Leonard dengan hati tenang. "Udah lah sok lugu loe?!", mendorong Leonard dan pergi gitu aja tanpa merasa bersalah. "Gila tu orang, gue jadi males kenal dia tau ngak?!".
"Gue lagi bed mood gini,dia malah nanyain kenapa gue ngak dateng ketempat balapan, ngak nanya ada masalah apa malah nylonong gitu aja!", gue emosi tingkat tinggi. " Udah loe itu cowok hadepin masalah loe dengan kepala dingin Bas", Seperti biasa Leonard yang selalu jadi temen setia gue selalu mensupport gue.
"Masuk yuk dah siang ini!", Leonard mendorong pelan badan gue buat maju jalan, mengikuti langkah kakinya.
******
Part 2
Taruhan gila Zidan
Siang yang panas, udara bertiup menghantarkan kehangatan, kuliah libur saatnya gue bisa tidur sampai sore, tak mementingkan temen gue yang satu dan menunggu teman yang selalu setia buat dengerin curhatan gue. Meski begitu setelah gue beres-beres mandi gue mencoba memejamkan mata tetep ngak bisa tidur.
Gue berpikir gue akan menyusul Leonard ke tempat dimana dia selalu nongkrong kalau lagi libur kuliah, dimana lagi kalau bukan ketempat olahraganya.
" Mau kemana Bastian, mau ngapelin cewek kamu ya?", nyokap mengoda gue sembari cekikikan menatap anak sata wayang nya ini jomblo.
"Lah gimana mau ngapelin yang ada liatin tu orang ngapelin pacarnya,mamah ih ada-ada aja, Bastian masih jomblo mah!" gue menahan rasa malu, setelah sekian lama gue ngak ngobrol sama nyokap akhirnya, sekarang gue bisa merasakan lagi obrolan ringan ini.
"La terus kamu mau kemana?", nyokap sembari menaruh sendok sayur membenahi duduknya dikursi meja makan. " Mau makan, masa mamah, makan sendiri anaknya nggak diajak, hahah", gue mengampiri meja makan.
Kali ini gue merasakan lagi makan bareng nyokap gue meski tak lagi ada bomap di samping gue saat gue makan, tapi ini sudah lebih dari cukup.
"Ya udah Bastian pergi dulu, udah ditunggu Leonard ditempat olahraganya, ntar dikira Bastian bohong lagi ngak jadi kesana", gue bangkit menuju tempat dimana sepeda motor gue terparkir.
" Emmm ya sudah sana hati-hati jangan ngebut-nebutan!", gue udah keluar nyokap baru teriak dari dalam rumah, tanpa menjawab gue langsung membelah jalanan kota Bandung. Ramai terkendali tak harus menunggu sampai sore gue sudah ada dipelataran yang luas, tempat dimana Leonard berada sekarang.
"Bas...loe kemana aja katanya jam 7 lewat 15 menit ehh malah kelebihan?" Leonard nyamperin gue saat tahu gue udah ada disana. "Iya tadi gue makan dulu, hehe la elo emang udah olahraganya?"
"Belum sih tadi pemanasan dulu, loe mau ikut?, ada cewek-cewek cantiknya juga loh hahah", canda Leonard ke gue.
" Heran gue kenapa sekarang pada bahas cewek sih?", gue sedikit binggung dengan kejadian hari ini. "Eh yang bahas cewek itu gue bukan banyak lagian loe kenapa kayak orang binggung gitu?!", Leonard kembali dengan ocehan nya. " enggak tadi dirumah nyokap gue nanya, mau kemana ngapelin pacarnya ya?, la gue jawab bukannya ngapelin tapi liat orang ngapelin anak orang!", terus loe sekarang malah bahas cewek lagi, pada kenapa sih?!", gue menyibakkan rambut sembari duduk dilantai bermatras.
"Hahaha itu tanda, kalau nyokap loe udah siapin calon buat loe heheh!", Leonard cengingisan melihat gue. " La kok loe sama nyokap loe bukannya loe sama bokap loe ya?!", Leonard baru sadar kalau gue udah sama nyokap gue bukan sama bokap gue lagi." ceritanya panjang Le, udah kapan-kapan aja gue ceritanya lagi males gue!", tangan gue menambar air mineral seseorang, saat gue mengibaskan tangan.
"Waduh ada air kenapa ngak loe singkirin ni botol kalau kebuka gini tumpah kan!", gue membuka mulut sesikit kaget soalnya bukan botol air minum gue, kalau punya gue ma gue biasa aja. " Le ada kain lap nggak!", gue meneriakki Leonard yang udah berdiri jauh dari hadapan gue. "Kenapa Bas?", Leonard malah balik nanya. " air minum orang gue tumpahin hehe!, gue nyengir masam. "Hahaa ada-ada aja loe Bas, nih!", menyodorkan kain lap pel entah dari mana dia ngambil yang penting gue sekarang jadi tukang betmrsih-bersih.
Waktu begitu cepat berlalu jam menunjukkan pukul 11:45, " Bas loe mau ikut gue apa disini aja?!", Leonard menawarkan. "Kemana?", gue memicingkan sebelah mata, " ketempat wisata", jawab Leonard serius. Tanpa gue menjawab gue menyetujui tawaran Leonard, entah mau diajak kemana yang penting gue diajak aja.
Dilauar nampak seorang pria dengan jaket berwarna hitam, rambutnya kayak gue kenal itu Zidan, "liat tu temen kita?!", gue mengacukkan kearah Zidan berada. " Zidan kan itu?, lagi apa dia?", Leonard yang masih belum tahu kelakuan Zidan sekarang gue memberi tahu nya.
"Apa lagi kalau bukan pacaran sama cewek-cewek nya itu!", gue menjawab santai. "Oh ya loe katanya mau ajak gue ketempat wisata dimana?", gue menganti topik bicara.
" Kita samperin Zidan yuk!", Leonard menarik lengan gue.
"Buat apa coba?", gue sedikit aneh, dengan sikap Leonard sekarang.
" Zid loe lagi ngapain?", tanya Leonard setelah sampai di tempat dimana Zidan berada.
Mau tau dimana disebuah taman yang apik, lagaknya mau pacaran dia sama siapa lagi, ada beberapa kursi dan meja melingkar lampu tampan dan masih banyak lagi pokoknya.
"Eh bro....gue lagi duduk aja kalian berdua lagi ngapain?!", Zidan seakan tak pernah punya salah terhadap gue.
"Ini habis olahraga terus mau jalan-jalan ehh malah liat loe disini, loe sendiri sama siapa kesini?", tanya Leonard lagi. Gue hanya diam memandangi sekeliling taman.
Tak menghiraukan mereka bicara, " Bas, loe mau gue kenalin cewek?!", Zidan menawari. Gue hanya menatap Leonard dan lagi-lagi dia bersikap acuh, mungkin dia berpikiran sama seperti gue sekarang.
"Hah...cewek mana ada cewek yang mau sama gue, lagian nih gue pilih cewek juga ngak sembarangan kali!", gue menghindar dari hadapan Zidan.
" tu kan kenapa lagi nih, orang ngak ada hujan ngak ada petir kok tiba-tiba nawarin cewek emang cewek barang yang bisa ditawar-tawar!", gue memisik dihadapan Leonard, gue tahu Leonard lagi ngapain, pasti dia berpikiran sama kayak gue, pengen ketawa inget kejadian hari ini.
Gila orang-orang disekitar gue lagi kesambet apa an sih, orang gue yang jomblo kok bahas cewek mulu.
"Emang kayak apa cewek nya Zid?", Leonard memecah keheningan diantara keramaian taman.
"Kalau loe mau ntar malem dateng aja deh ke tempat biasa gue tunggu disana, oke gue pergi dulu!", Zidan menjawab dengan santai, apa gue yang terlalu negativ thingking atau emang bener kalau?, ah sudah kenapa jadi mikirin Zidan.
"Woy...loe mau ajak gue kemana?", tanya gue lagi mengulang kata-kata yang sempet dicuekin sama Leonard.
" Heheheh....hayuk gue ajak!", Kembali menaiki sepeda motornya.
Jalan yang gue dan Leonard lewati nampak asing bagi mata gue dimana ini?, gue bertanya-tanya dalam hati.
"Turun...udah sampai nih!", suara Leonard terdengar lirih, entah tempat apa yang ada gue ngerasa aneh.
"Ini tempat apaan Le, loe jangan aneh-aneh deh!", bisik gue. "Udah loe ntar juga tahu", gue ditarik turun dari sepeda motor gue.
Saat memasuki pelataran gue ngak nyangka ini adalah makam, tapi tadinya gue kira Leonard bakal ajak gue dimana banyak cewek ternyata disini. "Mau ngapain sih loe kesini Le?", tanya gue penasaran. "Ya mau nedoain mantan pacar gue lah nah kebetulan hari ini tepat tanggal jadian gue sama dia", jelas Leonard.
Gue ngak sangka kalau Leonard bakal nglakuin itu buat pacarnya yang udah meninggal.
" Oh ya kalau boleh tahu namanya siapa Le?", tanya gue sembari membersihkan rumput-rumput liar disekitar makam, karena ngak ada nama nya apa salahnya gue tanya-tanya.
"Namanya Arum Larassati", jawabnya singkat.
Gue hanya menganggukkan kepala tanda memgerti.
"Udah yuk kita doa in dia disana!", Leonard membuka bibirnya.
Gue cuma ngak nyangka kalau temen gue se-setia itu, setelah selesai gue memutuskan mengajaknya di sebuah tempat dimana gue akan banyak bertanya sama dia, gue yang sampai saat ini ng-jomblo membuat gue iri kalau Leonard bisa kenapa gue enggak bisa?, tanya gue dalam hati.
"Kita makan dulu yuk gue laper banget!", seru gue sembari berdiri.
"Ayo Gue juga laper aslinya ahhaahaa!", tawa nya renyah membangkitkan suasana.
Tepat disalah satu tempat dimana gue dan Leonard akan menyantap sesuatu, makanan maksutnya.
" Le hari ini panas banget ya", gue basa-basi. "Tahu lah kenapa emangnya?,jangan-jangan loe nggak bawa uang lagi, Bas loe serius ngak bawa uang?!", Leonard nrocos takut gue ngak bawa uang padahal bukan itu yang mau gue bahas.
"Tenang gue bawa kok, oh ya Le, loe ngak mau cari cewek lagi?", gue langsung to the point. "Ha..cewek masih belum deh kayaknya", jawabnya singkat sesaat setelah menelan sesendok kuah bakso.
" Kenapa, Le, jangan-janagan loe belum move on lagi?!", mulut gue asal jiplak. "Haha....mana mungkin enggak lah,gue itu cuma nunggu temen gue biar ada ceweknya dulu baru gue nyusul hahaha!", tawa Leonard membuat orang disekitar tempat makan menoleh ke arah gue dan Leonard. " hehehe..maaf-maaf silahkan dimakan kembali", seru Leonard sembari berdiri dan menutupi mukanya dengan tangan.
"Haha..kurang asem loe bikin malu gue aja!", sontak gue memukul Leonard.
Leonard masih cengengesan setelah menghabiskan semangkuk bakso yang dipesannya. Gue yang melihatnya jadi malu sendiri, "itu temen gue bukan sih?", gue menerka dalam hati.
*******
Malam ini gue benar-benar keluar menemui Zidan ditempat lomba, benar juga ada Zidan yang udah stand by, Zidan memakai jaket levis dengan topi warna coklat kehitaman, sepatu nya mungkin dari kulit buaya, yang bikin dia juga kayak buaya, semua cewek jadi diembat sama dia.
" He bro...kemari!", Zidan menoleh seakan-akan gue belum liat ada Zidan disana.
"Eh iya Zid, udah dari tadi loe?", gue melangkah mendekati Zidan.
" Lumayan, mana Leonard kok nggak sama elo yang dateng?", Zidan celingak-celinguk mencari dimana Leonard berada.
"Tunggu aja ntar juga dateng", jawab gue singkat.
Benar juga sekitar beberapa menit suara sepeda motor Leonard mendekati tempat parkir.
" Hay bro, sory i'm terlamat hahhah!", seru Leonard setelah sampai didalam markas besar para pembalap liar.
"Nah mumpung udah komplit ni gue kasih cewek, tapi ada syaratnya kalian berdua mau balapan sama gue dan cewek nya boleh loe dan loe pacarain!", jelas Zidan sembari menunjuk muka gue sama Leonard.
" Haa...loe udah gila ya, itu cewek mana bisa dibuat mainan kayak gitu, loe setengah waras Zid, masa cewek buat taruhan!", bantah Leonard.
Tapi gue pikir ada benernya juga masa cewek buat taruhan udah setengah mereng nih temen gue. "Eh loe jangan sok polos deh loe, lagian gue berniat baik buat kalian berdua!", Zidan membela dirinya sendiri. " Zid yang dibilang Leonard itu ada benernya juga masa iya cewek buat hadiah taruhan loe kata dia sandal jepit?!", gue menjawab slengean takutnya ntar ada adu jotos segala yang ada Leonard yang maju, bukan gue hehehe.
"Yah loe berdua mau kagak, ini kesempatan emas buat kalian biar ngak jomblo lagi kayak gue!", jelas Zidan sembari membelakangi gue sama Leonard.
Tak ada jawaban yang ada gue hanya menatap Leonard, menunggu dan menunggu jawab gue sama Leonard,Zidan seakan mulai muak.
" kalian berdua emang cemen, banci loe berdua!", sentaknya kemudian.
"Gue sama Leonard bukan nya cemen gue sama Leonard menghargai hati cewek, gila apa loe, loe udah bukan temen gue lagi Zid, loe itu musuh dalam selimut, mana ada temen ngajak taruhan pake hadiah cewek!", gue mengela.
" Haha...tampang kalian aja keren mending gue, keren tapi ngak pengecut kayak loe berdua!", kembali Zidan meremehkan gue sama Leonard.
"Gue ada ide gimana kalau kita balapan tapi gue juga ada syarat buat loe Zid!", gue memberi solusi.
" Apaan ide loe, palingan juga ide ngak bermutu!", Zidan menimpali
"Kalau gue sama Leonard yang menang loe harus putusin cewek-cewek loe di depan kita berdua!", sontak gue menjawab demikian, karena yang baru tahu kalau Zidan punya banyak cewek adalah gue, sedangkan Leonard, hanya tahu kalau Zidan punya satu cewek , yang dia lihat dijalan tempat taruhan sepeda motor beberapa minggu lalu.
" Bas, loe ngomong apaan sih?" Leonard membisik ditelinga gue.
"Haha...gue, putusin mereka tunggu dulu, apa hak loe buat nyuruh-nyuruh gue hah!", bentak Zidan kemudian.
" Iya sama aja loe harus ikhlas demi taruhan ini, plus kalau gue menang loe harus rela kehilangan sepeda motor yang loe sayang itu, gimana deal?!", gue meminta kepastian dari Zidan.
"Oke gue setuju, tapi kalau kalian berdua kalah siap-siap sepeda motor yang loe berdua pake buat balapan jadi milik gue!", jawab Zidan dengan tegas.
" Oke sama Sebastian setuju", Leonard menatap gue mantep.
Akhirnya setelah sekian lama nego, kayak jual beli barang, gue menyetujui persyaratan Zidan dan begitu juga sebaliknya, Zidan menyetujui persyaratan gue, lihat apa yang akan terjadi gue yang akan kalah atau Zidan yang akan menjadi korban pemukulan cewek-cewek simpanannya.
Taruhan dimulai pukul 11:12 berjalan seperti biasa, lancar terkendali. Penonton yang suka balap botor berteriak menyebut gue dan Leonard, dan benar saja Gue kali ini menang dinomor pertama, Leonard yang menyusul gue di nomor kedua.
"Gimana Zid, loe siap, besok gue tunggu di cafe dan jangan lupa loe bawa tu cewek loe satu persatu, buat loe putusin disana!", ucap gue seraya bangkit dari sepeda motor.
" Oke gue bakal nepatin janji gue!", jawab Zidan dengan nada emosi.
"Nah...sini kunci motornya gue sekarang yang berhak bawa motor loe, bener ngak Bas, hahahah?!", Leonard menagih kunci sepeda motor Zidan dan menatap gue.
" Oke oke....nih kunci nya kayak ngak ada motor yang lain aja!", bangkit, memberikan kunci sepeda motor, langsung meninggalkan gue sama Leonard dijalan yang masih rame dengan penonton.
*******
Pagi kembali rasanya gue ngak tega merampas sepeda motor Zidan tapi mau gimana lagi, dia ngak pernah menghargai cewek, senakal-nakalnya gue, se-bejat-bejatnya hidup gue, gue ngak akan pernah nyakitin hati cewek, meski gue sendiri belum sempurna untuk cewek tapi setidaknya gue belajar banyak dari hidup gue sekarang.
Dikamar gue masih berbaring diranjang, malas rasanya buat pergi kuliah hari ini, tapi gue inget nanti malam adalah malam terindah gue, bakal menyaksikan film diacara gue, gimana bukan film kalau hidup kenyataan aja udah banyak dramanya.
"Sebastian...bangun udah pagi kamu ngak pergi kuliah?" suara nyokap terdengar lantang dari lantai bawah.
"Kuliah kok mah, nih baru beres-beres!" jawab gue santai. Padahal gue masih menggunakan piama memegang ponsel masih dengan rambut yang awut-awutan.
Sekiranya sudah benar-benar selesai gue makan sepotong kue melaju dengan kecepatan tinggi. Dijalan yang kini nampak sedikit ramai gue terlintas pikiran anak-anak jalanan, entah kenapa mereka bisa hidup dengan tenang, tanpa menjadi korban perceraian orang tua, dan lain sebagainya. Gue berharap masih ada hidup yang bikin gue nyaman, setidaknya hanya sementara namun gue akan merasakan betapa indah hidup guedengan orang tua yang akur dan bersatu, memahami satu sama lain, saling mengerti keadaan rumah dan keluarga.
Kini otak gue kembali memutar masalalu, dimana ada gue yang masih berusia 8 tahun, dan kedua orang tua gue yang masih bisa saling menjaga, gue iri dengan anak jalanan disana meski hidup sederhana tapi masih dilingkup kasih sayang orang tua.
"DOOBRAKKKK.....!" sepeda gue terjatuh tersungkur bersama gue bukan gue yang meleng tapi gue ngalamun dijalan. Gue berusaha bangkit sendiri sebelum orang lain membantu gue berdiri. Untungnya tidak terlalu parah, jadi gue bisa langsung pergi kuliah.
Gedung yang menjulang kini sudah ada didepan mata, orang-orang sekitar gerbang menatap gue aneh, gimana nggak, kalau gue mengingat kejadian gue jatuh gue pun akan tertawa, tapi apalah daya gue menahan rasa sakit dilulut dan menahan malu, takut ada orang lain lihat gue.
"Haha...Chris Sebastian....loe kenapa muka merah gitu, lagi tu baju, kenapa belum diloundy sama nyokap bokap loe hahaha?!", seru seorang mahasiswa entah dia siapa gue cuma suka ngliatin wajahnya disekitaran kampus tapi tak pernah gue ngobrol sama dia, and kenapa dia tahu nama gue?, gue berpikir sejenak.
"Ah..sialan loe...ngak tau urusan nya juga sok kenal loe!", jawab gue sinis.
"Yahhhhahaha....dia nyolot, pergi sono bikin bau lingkungan aja loe!", ujarnya sembari menutup hidungnya.
"Ehh loe berani?!, sini maju!". Gue menantangnya dengan keadaan gue menahan rasa sakit dan dingin dibadan gue.
"Woy....masih pagi pada mau ngapain jotos-jotosan loe pada?!", teriak Leonard yang tiba-tiba nonggol.
"Udah Bas, jangan loe ladenin orang kayak gitu loe urusin yang ada loe capek sendiri!", Leonard menepuk pundak gue.
Akhirnya lelaki yang gue tantang pergi duluan, meninggalkan gue ditempat parkir setelah tadi gue sempet masuk ke tempat parkir, sebelum gue nantang lelaki itu.
"Hehe...ups...maaf-maaf loe kenapa Bas, kotor banget?", tanya Leonard setelah tahu keadaan gue.
"Gue jatuh" jawab gue sembari duduk disepeda motor gue lagi.
"Aduh...kasian banget temen gue, terus-terus?", Leonard antusias menjawab.
"Gue crita di kantin aja yok laper gue!", gue bangkit diikuti Leonard yang berjalan pelan di depan gue.
"Yah ayok ngak sabar gue, denger cerita loe, hehe", canda Leonard.
Setelah sampai kantin gue memesan satu mangkuk mie ayam dan segelas jus alpukad, kesukaan gue.
"Em...jadi gini critanya", gue mulai menceritakan kejadian gue jatuh.
Setelah tahu kejadiannya Leonard ngak berhenti buat ngetawain gue. Gimana mau berhenti ketawa, bahkan makanan yang dipesennya aja sampe belum abis ditelen.
" Gue jatuh diselokan penuh kubangan air pantes laki-laki tadi bilang gue bau, kurang ajar tu orang!", gue menjelaskan.
"Hahaha...terus loe ada yang nolongin ngak Bas?", tanya Leonard yang masih asik dengan makanannya.
"Gak!",jawab gue singkat.
"Lagian loe kenapa pake benggong mikirin apaan loe?" Leonard menatap gue.
"Ngak ada yang gue pikirin cuma liatin anak jalanan doang", kembali gue membuka mulut.
"Hahah lah, tumben loe peduli sama mereka biasanya loe juga ngak terlalu memandang mereka kalau dijalanan?", Leonard memandang gue sesaat setelah menyantap makanannya.
"Ya...gue sih emang gak peduli sama mereka, lagian nih, gue cuma kasian sama mereka",
"Ngak ada yang gue pikirin cuma liatin anak jalanan doang", kembali gue membuka mulut.
"Hahah lah, tumben loe peduli sama mereka biasanya loe juga ngak terlalu memandang mereka kalau dijalanan?", Leonard memandang gue sesaat setelah menyantap makanannya.
"Ya...gue sih emang gak peduli sama mereka, lagian nih, gue cuma kasian sama mereka", jawab gue sembari memalingkan muka.
Habis menyantap makanan gue dan Leonard bangkit meninggalkan kantin yang mulai rame, gue ada jadwal hari ini dengan pak Said dosen yang paling gue suka saat ngajar karena bukan cuma baik dia selalu kasih motivasi buat mahasiswa nya, "Le loe ada jadwal ngak hari ini?", gue membuka percakapan. "Ha..em..heehee, ada sih kenapa, tumben loe nanya kayak gitu?", Leonard heran sama gue. Gimana nggak baru pertama ini gue nanya kayak gitu, biasanya gue nanya ntar malem ada balapan ngak gitu.
"Kalau ada pulangnya ntar sama-sama nih gue ada jadwal sama pak Said", gue menyodorkan tumpukan buku-buku yang baru aja gue ambil dari tas gue. "Hahaa tumben amat loe kesambet apaan loe?!", telapak tangannya memegang jidat gue.
"Eh...apaan sih!", gue menyampar tangan Leonard yang ada dia hanya cengar-cengkir.
Kini jam menunjukkan pukul 10:45 gue dan leonard pisah di simpangan koridor menemui dosen masing-masing.
Emang Leonard satu kelas sama gue tapi kalau masalah tugas yang ada beda-beda kalau gue selesai ini, Leonard itu dan sebaliknya kalau nggak ya tugas gue serahkan sama ahlinya hehe.
"Misi pak", gue mengetuk pintu. "Ya..silahkan masuk, Bastian ya.", tebak dosen yang belum ngeliat batang hidung gue. "Iya pak", jawab gue singkat sembari melangkah masuk kantor.
"Chris Sebastian kenapa kamu terlambat di jam bapak?!", pak Said mulai megintrogasi gue. "Emmm maaf pak tadi saya nunggu temen saya dulu", jawab gue ngeles.
"Kamu kan tau kalau bapak ngak suka sama orang yang ngak tepat waktu", timpal pak Said lagi. Sembari duduk dihadapan gue, nah ini yang paling gue takutin sama pak Said orang nya sih baik, tapi dia ngak suka sama mahasiswa yang suka menunda waktu bukan cuma itu aja, dia sangat disiplin lihat aja baju nya rapi, kacamatanya kinclong, sepatunya kelip-kelip hehe, maksut gue hitam mengkilap.
"Kamu dengar nggak bapak lagi bicara, malah ditinggal ngalamun mikirin pacar kamu?!", pak Said memecah lamunan gue.
"Hehe enggak pak, saya dengar kok, oh ya pak ini tugas saya gimana sudah bisa di terima?", gue mengalihkan perbincangan. Lagian meski pun gue ngak kayak gitu juga pak Said bakal nagih tugas-tugas gue.
"Sini bapak lihat dulu", sembari mengulurkan tangan hendak mengambil tugas gue.
Lama gue menunggu diruang yang penuh dosen-dosen, ada yang muda ada yang sedikit tua dan banyak lah dosen gue ngak keitung jumlahnya.
"Kamu kemaren bolos pelajaran bapak ya sama temen kamu itu?!", tiba-tiba pak Hasyim datang memergoki gue yang berada dikantor.
"Eh...bapak, bapak salah kali kemaren saya itu pas pelajaran bapak ngak masuk ", jelas gue tanpa rasa was-was.
"Jangan bohong kamu?", pak Hasyim masih belum percaya.
"Mana buktinya kalau saya sama temen saya bolos?", tanya gue dengan percaya diri. Gila ya pak Hasyim bikin gue malu dikantor ngak tau apa dihadapan gue ada pak Said, yang ada gue ntar ngak jadi dinilai 'A' dong!, batin gue.
"Benar kamu bolos pelajaran pak Hasyim Bastian?", tanya pak Said menatap pak Hasyim bergantian menatap gue.
"Ah enggak, salah liat kali, pak Hasyim kan udah lanjut usia", gue sedikit membisik.
"Hust.. Kamu sama dosen kamu kayak begitu, sudah sana pergi nanti bapak teliti dulu tugas kamu", pak Said mempersilahkan gue pergi tanpa menghiraukan pak Hasyim.
*******
Siang mulai mendung seperti hati gue yang selalu mendung, setelah gue kena masalah di kantor dengan pak Said dan pak Hasyim membuat gue laper setengah mati, perut keroncongan minta jatah siang, mata gue juga minta jatah buat istirahat, bukan cuma itu, badan gue juga rasanya mau ambruk, lemes ngak ada daya, tapi masa iya gue cowok lemah.
"Bas, tunggu!", terdengar suara memanggil nama gue, saat gue menoleh ternyata itu Zidan.
"Woy...loe bro...masih inget sama temen loe?!", jawab gue.
"Tunggu Bas, jangan marah-marah dulu, oh ya ngomong-ngomong loe gimana mau cewek yang gue tawarin ke elo?!", Zidan to the point sama gue.
"Eh loe jangan gila, meski hidup gue ancur jangan kira hati sama pikiran gue juga ancur kayak loe!", gue mendorong Zidan sedikit.
"Lah nyolot sih loe, lagian gue tawarin juga baik-baik, jangan sok
munafik lah jadi cowok!", Zidan membalas mendorong gue.
"Loe itu temen gue bukan sih, masa loe sama temen loe kayak gitu loe bukan Zidan yang gue kenal lagi, saat gue butuh temen-temen gue yang ada loe sibuk ngurusin cewek loe yang se-abreg untung gue masih punya Leonard temen setia gue, bukan kayak loe tau ngak!", gue berpaling meninggalkan Zidan sendirian di koridor.
Belum sempet Zidan menjawab pernyataan gue. Gue udah jauh ninggalin dia berdiri sendiri.
Ngak nyangka kan temen yang selama ini sama gue sekarang berpindah karena sibuk ngurusin cewek, gue laki-laki jomblo yang nakal suka mabuk-mabukan minum obat terlarang dan sebagainya tapi hati gue ngak separah hati Zidan yang udah tertutup semuamya.
Siang berlalu begitu cepat, hujan menguyur tempat parkir, dan sekitarnya membuat gue harus duduk diam di kelas, sembari memainkan handpone ditangan gue. Belum lama gue mengangan-angan hidup gue, seseorang mengagetkan gue dengan menepuk pundak gue. "Bas...loe kenapa, suntuk amat mukanya?!", temen sekelas gue ternayata yang dateng, gue kira Leonard, "eh...elo tumben loe nyapa gue?" sembari cengar-cengir gue mengaruk kepala.
"Yah elo sih gimana mau nyapa, loe aja selalu sama Leonard ya kan, mana bisa gue sapa elo, yang ada gue jadi malu sama Leonard, lah ini tumben Leonard ngak sama loe dimana dia?", sesekali menoleh ke arah kiri, kanan belakang kelas.
"Lagi ngerjain tugas dia nya", jawab gue singkat. Tak ada jawaban hanya angukan kepala tanda mengerti.
"Gue boleh duduk disini?", tanya nya ragu.
Gak gue jawab hanya mengangguk pelan.
Mau tau dia siapa?, sekarang gue jabari temen sekelas gue ini, meski ngak terlalu akrab tapi kayaknya dia cewek baik sih.
Namanya Vanya Kalim, mungkin nama Kalim diambil dari nama orang tua nya. Dia tomboy, tapi banyak cowok yang ngejar-ngejar dia, ya gue tau dia sih cantik, rambutnya suka dikuncir satu dibelakang.
"Oh ya Bas, loe kok sekarang cuma sama Leonard kenapa nggak sama Zidan kan biasanya bertiga mulu loe?", Vanya membuka percakapan, mencairkan suasana.
"Enggak...." jawab gue singkat.
"Loe ada masalah sama Zidan?", Vanya kembali bertanya.
"Iya, udah lah males gue bahas Zidan, bahas yang lain aja", gue mulai sinis.
"Oh maaf deh, emmm...loe mau ngak ntar malem gue ajak jalan?", pertanyaan Vanya membuat gue menatap nya tajam.
"Ha...emmm...aduh gimana ya ntar malem ada acara nih, gimana kalau besok?" gue mengela.
Gaes gue kira cuma cowok yang berani ajak jalan cewek lah ini gue alami sendiri, cewek yang ngajak jalan cowok gila, berani banget Vanya batin gue.
"Hahah....cie...yang lagi PDKT wah gue ganggu dong, gue pergi duluan ya ntar kalian berdua jalan barengan!", timpal Leonard yang tiba-tiba dateng.
"Eh apaan sih siapa coba yang PDKT , orang ngobrol biasa juga", jawab gue singkat. "Haha lagian kalau emang benar gue dukung kok, biar hidup loe ngak kelam Bas haha", Leonard candain gue.
"Eh...gue pergi dulu ya", Vanya pamit keluar kelas, gue jadi ngak enak kan sama dia.
"Van...mau kemana sini dulu gue baru dateng loe main pergi-pergi aja", seru Leonard menoleh kearah Vanya.
"Gue lupa hari ini ada acara sama temen gue, biasa mau karate!", Vanya menjawab setelah keluar dari ruang kelas.
"Eh benggong aja loe dia udah pergi kali!", tangan Leonard menepuk bahu gue.
"Gue ada yang aneh deh sama Vanya, Le?", gue bertanya-tanya. "Aneh kenapa dia juga mausia kali sama kayak gue loe juga mausia, emmm...aneh apa nya hahah!", Leonard dikasih tahu malah becanda ketawa-ketiwi.
"Wah jangan-jangan loe beneran suka sama Vanya ya?", Leonard asal nyeplos.
Untung Vanya udah pergi kalau nggak bisa baper bener an deh tu anak orang.
"Heh...apa an sih mana ada gue suka, enggak, cuma ada yang aneh dari sikap dia cerita-cerita sama gue tadi", gue membuka mulut.
Ngak ada jawaban dari Leonard yang ada matanya doang bergulir, sembari memicingkan matanya. "Woy...loe denger ngak gue bicara!", sentak gue.
"Ih...denger yes...gue tau sekarang, nih ya duduk lagi gihh...gue juga capek mau duduk", uajar Leonard.
"Sejarahnya nih, Vanya bakalan suka sama loe, atau mungkin dia emang suka sama loe Bas!", nada suara Leonard nampak serius.
"Enak aja, mana mungkin, gue emang tampan, tapi masa iya ada cewek yang suka sama gue, dengan kelakuan gue sekarang", jawab gue, kembali menatap Leonard.
Kita hanya menghabiskan waktu di dalam kelas, bercerita, mengada-ada dan menerka-nerka, apa yang terjadi dalam setiap hidup manusia itu gak ada yang sama, kalau pun ada mungkin 75 persen nya.
"Oke ini keluar dari pembahasan kehidupan loe sekarang. Gue mau nanya dalam hati loe kosong bro, kenapa ngak loe pacarin aja tu si Vanya, lagian dia juga jago karate kan?!", Leonard mencairkan kebisuan.
"Gue belum siap Le", jawab gue singkat.
"Haha...loe itu cowok, kenapa ngak loe coba deketin dia?!", tanya Leonard lagi, kali ini dia berdiri dari duduk nya.
"Le, mau kemana loe?", tanya gue sesaat kemudian.
"Pulang udah reda nih hujan nya, jangan lupa ntar malem gue mau lihat Zidan hehe", Leonard berjalan ninggalin gue sendiri.
"Haha...tunggu gue!", gue berlari kecil menyusul langkah kaki Leonard.
Sepanjang jalan menuju parkiran gue dan Leonard tak ada yang membuka percakapan hanya menatap orang berlalu lalang hendak pulang ke rumah masing-masing dan itu mungkin, gue tak pernah menyangka kalau Vanya seberani itu ngajak gue jalan, apa gara-gara dia udah lama dikejar-kejar sama cowok sekampus atau gimana, gue memikirkan tingkah Vanya.
"Le, loe habis ini langsung pulang?", gue membuka percakapan.
"Ya kalau loe mau ketemuan dulu sama Vanya gue pulang lah haha", cengir Leonard.
"Enak aja enggak, gue mau ikut taruhan lagi soalnya", sembari memakai helm gue menaiki sepeda motor gue.
"Taruhan lagi, ada hadiahnya kan pasti, seperti biasa, gue mau ikut lah kalau loe ikut, lagian gue juga bosen dah lama gue ngak ikut balapan liar lagi hehe", Leonard semangat kalau masalah balapan liar.
"Udah gue pulang dulu ntar gue tunggu ditempat biasa, laper gue mau makan", timpal Leonard lagi.
"Oke, gue juga pulang duluan".
Tak ada jawaban hanya mengacungkan jempol dan berlalu.
Udara kini kembali menyejukkan pelataran, sehabis hujan rasanya hati ikut adem terasa ringan seperti tak ada beban pikiran. Sekian lama gue menyusuri jalan beraspal, akhirnya pintu gerbang rumah gue udah terlihat didepan mata.
"Baru pulang?", suara nyokap memecah keheningan ruang tamu.
"Iya, Bastian baru pulang, kenapa mah?" tanya gue sebelum gue meninggalkan nyokap sendirian.
"Gimana kuliah kamu, lancar atau ada masalah?" tanya nyokap lagi
"Lancar kok, ngak ada masalah, Bastian ke kamar dulu, mau mandi", gue berlalu meninggalkan nyokap.
Entah kenapa rasanya aneh banget, selama ini gue hidup bersama bokap tak pernah gue cuekin bokap gue tapi ini, kenapa beda seakan gue masih menggantung, memang keluarga gue sekarang hancur dan gue hanya bisa berdiam diri saja bukan karena lemah, tapi gue males menurus percek-cok an mereka. Kembali gue terpikirkan banyak masalah dalam keluarga gue.
Badan gue baringkan diatas ranjang, tangan memainkan posel, telinga mendengar lagu, mulut gue komat-kamit seperti baca mantra, entah mantra apa yang gue tahu gue mendengar lagu yang enak seakan gue ikut terbawa suasana.
Masih terlalu siang untuk gue sebelum pergi balapan, dan masih terlalu siang buat gue pergi tidur, gue putuskan untuk mandi, bersih-bersih badan gue yang lengket.
Sesaat kemudian setelah selesai mandi, berganti baju, gue pergi ke dapur untuk sekedar makan nasi penganjal perut yang udah kroncongan.
"Kamu kok udah rapi mau kemana?", nyokap menyadari gue udah rapi, bersih dan rapi.
"Bastian mau balapan mah", jawab gue. Kembali gue mengunyah nasi yang ada dimulut.
"Bastian kamu ini harus kuliah yang bener bukan malah balapan terus, mamah cari uang buat kamu loh", ujarnya masih halus.
"Iya tapi balapan adalah hobi Bastian mamah jangan melarang Bastian dong", gue bangkit dan berlalu.
"Bastian, tunggu nak kamu jangan pergi!", teriak nyokap gue.
"Bastian pergi dulu ngak lama kok mah, mamah dirumah aja jangan cari in Bastian!", gue teriak dari luar rumah.
Ngak ada jawaban gue langsung pergi ninggalin rumah.
Gue masih memikirkan tawaran Vanya yang ngajak gue jalan tanpa Leonard harus tahu, bahkan gue juga ngak mau Zidan sampe tahu.
Dilema gue terbawa sampai tempat balapan, disana nampak sspeda motor Leonard sudah terparkir rapi.
"Bro....sory gue baru sampai?!", suara gue memecah keramaian jalan raya.
"Hahaha....iya lah lagian belum mulai kok", jawab Leonard.
"Hay, Bastian kemana aja loe kok baru dateng?", Khaniva nyaperin gue.
Entah ada apa dengan wanita-wanita sekarang ini, tadi di kampus Vanya yang deketin gue, sekarang Khaniva binggung gue.
"Iya tadi ketiduran", jawab gue seraya membenahi duduk.
"Mau?", tawar nya.
Disamping gue Leonard hanya senyum-senyum sendiri, terpaksanya gue terima air minum yang disodorkan Khaniva.
"Bas, loe kok keliatan ganteng banget sih?" tanya Khaniva sesaat kemudian.
"Emm...thank...baru kali ini gue dibilang ganteng sama cewek hehe", jawab gue nyengir masam.
"Selama gue kenal sama Zidan dan lainnya gue selalu deket sama Zidan, dan baru kali ini gue bisa ngobrol sama loe Bas", Khaniva menunduk seperti ada beban. "Sudahlah kenapa juga loe bahas gituan, lagian disini semua sama aja", jawab gue. Gue binggung harus jawab apa yang gue tahu emang benwr gue sama Khaniva ngak bisa akrab selama ini.
"Oh ya nanti malem loe dateng ya di kafe, ntar gue kirim lokasinya", gue menambahi.
"Emm..oke...." singkat padat dan jelas.
"Le, loe jadi ikut taruhan hari ini?", tanya gue setelah Khaniva pergi.
"Iya jadi lah lumayan buat heppy-heppy an aja".
"Toss...." sembari menyulurkan tangan.
Selesai balapan gue dan Leonard langsung menuju ke Kafe, dimana gue akan menyaksikan Zidan menjadi pemain utama difilm gue, mungkin kalau disutradarai udah pantes deh tu jadi pemain tapi sebagai teman gue bakal kasih dia waktu sampai nanti jam 8 malam.
"Khaniva ntar malem jangan lupa ya jam delapan harus udah sampe di kafe gue kasih alamatnya nanti", seru gue saat mendapati Khaniva duduk sendirian tanpa Zidan.
****
Malam udah larut, bintang seakan tersenyum sama gue, bulan pun nampak bulat bercahaya setelah tadi siang hujan begitu lebat sekarang malam kembali ceria lagi.
Gue masih ditempat tongkrongan favorit gue, dimana disini sudah tersedia berbagai macam makanan ringan, bukan cuma itu minuman aja sudah tersedia, dimana lagi kalau bukan warung kecil disebrang jalan.
"Gue cari in, loe ngejogrog disini rupanya?!", bahu gue di tampel.
"Hehehe...kurang asem loe, untung gue ngak keselek bakwan, lagian loe ngapain sih nyariin gue kayak loe bapak gue aja?" gue menjawab sembari memasukkan sisa bakwan ditangan.
"Hehe...emang loe anak gue, loe makan ngak ajak-ajak, bosen loe sama gue?", tanya Leonard lagi, menjajari duduk gue.
"Bukan bosen gue keburu haus laper juga, lagian loe gue cari dimana-mana ngak ketemu, emang dari mana sih loe?" tanya gue.
"Dari sana", menunjuk arah yang tadi buat duduk Leonard.
Gue males jawab ngak ada faedahnya kalau udah kayak gitu. "Boleh dong traktir gue?", Leonard mencairkan suasana diwarung.
"Halah, loe bisa ya kalau acara kayak gini, ya udah sana makan gue traktir", ujar gue.
Gue menatap ibu warung yang melihat tingkah gue dan Leknard udah kayak kucing sama tikus apa itu dikartun anak-anak. "Saya lihat kalian kok kayak anak kembar saja dek?!", tanya ibu pemilik warung.
"Haha...iya bu, maklum dia udah jadi teman sekaligus saudara saya bu, pengganti orang tua", jawab gue santai.
"Lah emang orang tua adek ni kemana?", tanya ibu itu lagi, kali ini menatap gue serius.
"Dirumah lah masa saya bawa lah bu hehe", canda gue.
"Ah garing loe Bas!", seru Leonard.
"Udah kalian makan dulu aja sebentar lagi udah magrib, kalian berdua pulang nanti di cariin lagi sama orang tua kalian", ujar ibu pemilik warung sembari menoleh ke belakang menatap jam dinding.
"Iya bu, ini udah selesai berapa bu, semuanya?", tanya Leonard sok mau bayar.
"Semuanya 40 ribu", jawab nya.
"Bas, mana duit loe katanya mau traktir gue hahahha?!", sontoloyo nih bocah.
"Nih bu saya bayar, besok-besok jangan mau kalau temen saya beli jangan diladenin ntar gak dibayar lagi bu hahah?!", gue balas canda an Leonard.
"Iya terimakasih", jawab nya singkat.
"Kampret loe Le!", seru gue.
Gue dan Leonard beranjak pergi ninggalin warung makan yang kini nampak sepi hanya ada beberapa orang yang duduk bersantai dipelataran warung.
****
Malam ini tepat pukul 8 gue dan Leonard sudah standby di kafe indah tempatnya, dan akan indah lagi kalau semua cewek Zidan sudah ada disini.
"Hay Bas, Leo, kalian udah lama disini?", tanya Khaniva yang baru aja dateng.
"Lumayan baru aja heheh", jawab Leonard.
Diujung pintu kafe nampak jaket putih dengan topi warna merah darah seperti sedang mencari-cari sesuatu, pasti itu Zidan yang nungguin gue.
"Gue kesana dulu bentar", gue minta ijin ninggalin mereka berdua.
"Woy...kemana aja loe, tadi sore loe ngak ikut main balap motor?", gue menepuk pundak Zidan.
"Lagi males gue", jawab nya sinis.
"Ayok masuk, oh ya gimana cewek loe udah loe kasih tau kan semuanya?", tanya gue langsung pada intinya. Karena seorang Chris Sebastian tidak ada yang namanya bertele-tele.
"Udah", singkat jawaban Zidan.
"Eh ada Zidan juga, hay?", sapa Khaniva setelah gue dan Zidan berada ditempat kumpul.
Ngak harus nunggu lama-lama semua cewek yang pernah dideketin sama Zidan kini berkumpul jadi satu tapi sayang pacar nya yang gue tau namanya ngak ada disini, coba kalau ada pasti nambah seru kali, secara dia udah pacaran lama sama pacarnya yang sekarang lagi kuliah jauh dihadapannya.
"Oke...geas gue yang suruh kalian semua dateng kesini, dimana Zidan bakal mengungkap semuanya, kalian siapa dia?" tanya gue pada cewek-cewek yang udah kena tipu daya Zidan.
"PACARNYA!!!!", teriak semua cewek bersamaan. Entah gimana cara menghadapi semuanya. Cewek-cewek yang berada ditempat itu langsung menatap Zidan penuh amarah dan tanda tanya.
"Oke....maaf in gue, gue khilaf, gue laki-laki bodoh yang selalu menyukai setiap wanita yang baru gue kenal hanya untuk hiburan gue aja, dan buat kamu Khaniva maaf in abang udah ngecewain Khaniva, bukan maksut abang untuk melukai kamu", tunduk Zidan merasa bersalah.
Tanpa basa-basi sebelum semuanya selesai dijelaskan, semua cewek Zidan menyerang Zidan dengan tangan nya.
"Aku kecewa sama Zidan kenapa kamu bohong sama Khaniva?!", Khaniva menunduk menahan air mata.
"Dan loe Bastian, maaf in gue, Leonard maaf in gue selama ini gue buta karna wanita, temen yang selalu ada buat gue sekarang membukakan pintu hati gue.
"Udah-udah jangan loe sesali semua udah terjadi gue sama Bastian udah maafin loe kok dan ini, kunci motor loe gue kembaliin", Leonard menyodorkan kunci motor Zidan.
Masih dikafe yang ramai semua mata tertuju pandangannya dimeja tempat gue dan lainnya berkumpul. Setelah semua cewek meluapkan amarahnya sama Zidan kini gue harap Zidan bakal bertaubat. Sedangkan gue mungkin akan tetap dengan kehidupan gue yang ancur, jomblo dan ngenes kalau orang jawa bilang.
"Why? are you sad?",Leonard menanyakan keadaan Zidan menggunakan bahasa inggris mungkin dia inget sama rumahnya di LA.
"no I'm not sad because I'm lucky you guys can realize from my mistakes all this time, for you Bastian and you Leonard thank you very much, I'm lucky to get to know you guys again", ujar Zidan sembari mengulurkan tangan.
"Emmmm....ya udah lah bang Zid, Khaniva pergi dulu, terimakasih buat selama ini, abang udah nyakitin hati Khaniva", dari nada suara Khaniva nampak menyesali kejadian ini.
"Maaf in abang, bang Zidan ngak bermaksut nyakitin Khaniva", ujar Zidan sembari menatap mata Khaniva.
"Iya bang udah Khaniva maaf in", Khaniva berlalu pergi ninggali gue dan kedua temen gue.
Setelah kejadian hari ini rasanya lelah banget, seakan gue belum tidur satu hari dua malam, "Zid gue pulang dulu dan makasih buat tawaran loe taruhan cewek itu, gue udah belajar dari pengalaman hidup gue saat ini", ujar gue sembari bangkit dari duduk diikuti Leonard. Gue tinggalkan Zidan sendirian supaya bisa berfikir nerbih tentang hidup dan cintanya saat ini. Tak ada respon dari Zidan hanya anggukan kepala.
"Langsung pulang Bas?", tanya Leonard mencairkan suasana hati gue.
"Iya lah mau ngapain lagi coba?", gue balik nanya.
"Ya kira in mau cari-cari apa dulu", senyum Leonard sumringah menatap gue.
"Emmm...enggak lah capek gue mau istirahat, gue duluan ya!", gue berlalu meninggalkan Leonard dibelakang. Langkah kecil nya membuatnya tertinggal jauh sama gue.
"Oke hati-hati!", teriaknya dari kejauhan.
Tak gue respon hanya jempol tangan, menjadi saksi bisu perpisahan gue sama Leonard malam ini, ciee'elah dramatis banget gue.
"Tonight I study again to be able to understand a woman without having to hurt her any deeper, like my parents today, separating, I'm devastated not just by my psychologist but my physical and mind seem to begin to collapse because of it all. What other events will I experience after Zidan has been outlined by God?", batin gue mengikuti cara bicara Leonard dari lagaknya ngomong bahasa inggris.
********
SIAPA DIA?
Embun pagi ini membuat suasana semakin dingin ditemani udara, bertiup sedikit kencang, membuat gue malas bangkit dari ranjang, terdengar suara ribut-ribut memasuki celah kedua telinga gue.
"Siapa sih pagi-pagi udah ribut kayak ayam mau bertelur aja!", serobot dalam hati gue.
"Papah yang keterlaluan, anak di biarkan seperti itu, sekarang mau minta lagi sama mamah buat kasih Bastian ke papah, papah yang ngak bisa ngurus Bastian, dia jadi anak nakal, sekarang lebih dari itu, Bastian selalu aja balapan liar, apa papah ngak merasa gagal mendidik anak ", suara nyokap memanggil-manggil nama gue. Entah apa lagi yang dibahas sudah pisahan masih aja ribut, gue kira hidup ngak harus seperti naskah drama, seakan hidup adalah film yang disyuting dari atas.
"Mamah yang harusnya tau diri, papah kerja siang malam buat Bastian, dia malah lebih senang hidup sama papah dari pada mamah yang hanya punya rumah kecil seperti ini!", bokap menimpali.
Gue menuruni anak tangga melihat apa yang terjadi dibawah, gue mecah keramaian dilantai bawah dengan melempar bantal yang gue bawa dari kamar.
"Ini pagi-pagi udah ribut, mau papah sama mamah apa sih?!", gue menanyakan hal konyol.
"Itu papah kamu mau kamu tinggal sama papah kamu sama istri barunya itu", sahut mamah sembari jongkok di lantai mengambil bantal yang gue lempar.
"Papah ingin yang terbaik buat kamu Bastian, ayo tinggal sama papah saja dirumah yang besar dulu", tawar bokap gue.
"Ini apa an sih Bastian udah gede, mau tinggal dirumah atau dimana itu urusan Bastian kalaupun mamah sama papah ngak mau menerima Bastian, Bastian rela hidup dijalan malah lebih tenang!". Gue menjawab dengan nada naik beberapa oktaf.
"Jangan begitu nak, meski mamah sama papah udah berpisah tapi setidaknya kami adalah orang tua kamu, dan kamu berhak memilih", ujar nyokap.
Pagi ini seakan badai telah datang dipagi buta, gue kembali dirumah yang tak bisa bikin gue tenang.
"Lagian papah ngapain lagi sih kesini, Bastian udah tahu akal busuk papah itu?!", gue mengela.
"Bukan begitu papah hanya ingin kamu hidup terjamin bersama istri baru papah, lihat mamah mu belum bisa menghidupi kamu.!", bokap membela diri.
Tak ada suara dari nyokap, hanya suara desiran angin, mengelilingi penjuru rumah kecil mamah, meski rumah nyokap gue kecil setidaknya sedikit besar dan buat gue ini cukup buat gue.
"Ahhh...sudah lah terserah mamah sama papah, Bastian pusing pah, mah ngak dirumah sana, ngak dirumah sini sama aja!", gue berlalu ninggalin nyokap bokap gue.
"Mau kemana kamu Bastian?", teriak bokap setelah gue berpaling.
"Bukan urusan papah, Bastian mau sendiri jangan cari-cari lagi!", gue pergi membawa sepeda motor, dengan kecepatan tinggi gue pergi ke tempat balapan motor, dimana disana ada markas yang tersembunyi tak diketahui oleh orang lain selain orang-orang yang suka bermalam.
"WAWHHHHHHH..........!" gue teriak sekencang-kencangnya. Entah diluar ada yang mendengar atau tidak. Hidup gue sekarang seakan barang yang harus dipindah kesana kemari tinggal disana, harus di sana ikut siapa dan bagaimana. Mengapa ini tuhan? Batin gue sembari duduk memojok di ruang penyimpan minuman keras, disinilah gue menghabiskan banyak minuman, dan beberapa obat terlarang gue teguk sekaligus.
Kejiwaan gue seakan mulai hilang, gue ngak mau gila karena urusan keluarga. Tanpa gue sadari seakan semuanya gelap gulita.
"Ini pagi?, tapi mengapa ini?" gue masih sedikit menyadari kejadian pagi tadi.
"Gue ngak mau mati sekarang?" batin gue seakan telah pesimis.
Tanpa gue sadari gue tergletak dilantai, gue sedikit mengeluarkan suara berharap ada yang mau menolong gue sekarang.
"Emm...to...to...tolong......!" suara gue seakan lemah tak berdaya.
"Si...si...siapa...a...a...ja...to...to...tolong...gu....gue...!", sedikit demi sedikit gue mendengar ada langkah kaki menuju ruangan.
"Ya allah...ini kenapa?!" gue menatap dengan mata sayup suara wanita entah siapa gue ngak mengenalnya, buru-buru meminta bantuan berteriak diluar ruangan.
"Tolong siapa aja...tolong ada yang pingsan!", suara itu berteriak kencang, banyak orang berkerumun dan membawa gue sebelum gue benar-benar pingsan.
*********
Hari berlalu begitu cepat, entah kapan gue mulai pingsan dan tak sadarkan diri dan mulai kapan gue tersadar saat ini. Mata gue sayup-sayup membuka, disamping gue nampak wanita berjilbab pink dengan baju selempang di bagian dadanya.
"Emmm...." gue mencoba mengeluarkan suara.
"Abang sudah sadar?" tanya wanita itu sopan dan halus, tangannya memegang gue dengan lembut.
Dia menyodorkan air minum yang tergletak dimeja.
Dan sebelum semua datang menghampiri kamar gue berada, wanita itu bangkit dan berlalu begitu aja tanpa kata-kata dia meninggalkan senyuman di mata gue.
"Dokter...anak saya sudah sadar!", suara nyokap terdengar disela telinga.
"Baik bu saya priksa dulu anaknya", perlahan alat detak jantung menyentuh dada gue.
"Alhamdulilah bu, anak nya sudah stabil sudah tak perlu banyak dipikirkan, saya peemisi dulu ya", dokter yang memeriksa gue berpaling ninggalin gue dan nyokap.
"Papah dimana mah?" tanya gue lirih karena masih lemah.
"Entahlah nak, sudah beberapa hari ini papah ngak menjenguk kamu, biasanya selalu datang di jam segini", suara nyokap sedikit cemas.
"Hmmm....mah, tadi mamah lihat wanita berjilbab ngak ya?" tanya gue penasaran.
"Siapa nak, dari tadi mamah ngak melihat ada orang disekitar sini", nyokap gue menoleh kepenjuru ruangan sampai di luar ruangan.
"Tadi ada kok pake jilbab warna pink , tadi menawarkan Bastian minum", gue menjelaskan. Ada rasa penasaran dalam diri nyokap gue saat gue menatap matanya.
"Ya sudah lah kamu istirahat dulu aja", nyokap membenahi selimut dibadan gue.
"Assalamualaikum tante, gimana keadaan Bastian tan?", seseorang menyapa nyokap diluar.
Siapa dia apakah dia wanita yang tadi?, batin gue.
"Alhamdulilah sudah siuman, ayo lihat dikamarnya", ujar nyokap gue menyuruh nya masuk kekamar.
"Vanya?" batin gue.
"Gimana keadaan loe Bas?" tanya Vanya sesaat kemudian.
"Yah beginilah, loe sama siapa kesini?" tanya gue masih dalam keadaan berbaring.
"Sama Zidan and Leonard tapi katanya mereka mau beli sesuatu diluar", ujarnya.
Gue tak menjawab hanya senyum simpul.
Beberapa jam setelah jam menunjukan pukul 9 lebih Zidan dan Leonard dateng menenteng buah ditangan.
"Bastian...kebetulan loe udah sadar, nih gue bawwin buah kesukaan loe", Leonard sepertinya seneng banget lihat gue udah bisa membuka mata.
"Bas, maafin gue selama ini gue kurang perhtian sama sahabat gue sendiri, tapi sekarang yakin deh sama gue, gue bakal jadi sahabat loe dan berusaha mennadi sahabat yang baik", Zidan kembali menjadi sahabat gue yang pernah gue kenal setelah kejadian beberapa hari lalu, gue kira sih.
"Iya gak apa-apa lagian baru beberapa hari kan loe gue kerjain hehe!", ujar gue.
"Maksut loe gue dikerjain tu apa, enak aja loe pikir baru kemaren ini udah berganti bulan kali Bas haha!", tawa Zidan renyah memecah seluruh ruang kamar.
"Bastian, why did you do such a stupid and crazy thing, you almost died if you didn't have anyone to help you at that time, you still have me, I'm your friend, you shouldn't be like that, I know you are depressed to live your life right now, Bastian, you know you have been in a coma for almost 6 months, and have been unconscious. Your parents even though they are worried about you, but they always fight with each other, Zidan and I worry that we are like brothers but you do this, can't you think about your life a little?"
sepertinya Leonard benar-benar mencemaskan gue seakan gue adalah bagian dari hidupnya dia, sampai-sampai dia memarahi gue dengan bahasa inggris mungkin biar ngak terlalu keras kali ngomong sama orang sakit kayak gue.
"Hah...6 bulan?!" gue tersentak kaget .
Gue masih ngak percaya kalau gue selama itu koma, gue putuskan menanyakan hal ini ke Vanya, karena Vanya masih ada disamping tempat tidur gue.
"Van...bener apa yang dikatakan Leonard, gue koma selama 6 bulan?" gue masih dengan rasa penasaran.
"Udah lah Bas, jangan loe pikirin, anggep aja loe cuma pingsan sehari doang", ujar nya sembari menatap nyokap gue.
"Lah gimana sih orang gue nanya juga, uhuk...uhuk...", tenggorokan gue serasa kering, tanpa gue minta Vanya memberi segelas air putih.
"Mamah keluar dulu, tante titip Bastian ya", nyokap gue berpaling ninggalin gue dan sahabat-sahabat tersayang gue.
"Thanks...", ucap gue seraya menyeka sisa air minum di bibir.
Gue ragu akan wanita yang ada disamping gue beberapa waktu lalu, pikiran gue masih tertuju padanya, siapa dia?, sayang wajahnya masih sayup dimata gue, jadi belum gue kenali selurunya.
Karena terpejam lama mata gue terasa berat saat ingin membukanya.
"Bas....loe kenapa?" Vanya memecah lamunan gue.
"Ha....emm....enggak, kenapa gimana?" gue balik nanya, OON banget gue sekarang dimata Vanya, hanya senyum mengembang dari bibirnya.
"Gue pengen keluar, bosen didalem bau obat-obat", sahut gue.
"Loe mau keluar, gue ambilin kursi roda dulu loe belum sembuh total kan, jadi loe harus mau", tawar Vanya.
Gue menatap Zidan dan Leonard, seakan mata mereka mengatakan, "baik banget sih Vanya, Bas, kayaknya emang bener Vanya suka sama elo?", dipikiran gue itu adalah perkataan Leonard, tapi beda lagi dengan bahasa mata Zidan.
Seakan Zidan berkata, "Bas, loe jadian sama Vanya, beruntung loe, salut gue?!", itu yang gue pikirkan dari Zidan.
****
Malam larut begitu cepat suara azan magrib memanggil hati nurani gue tapi sayang gue masih belum bisa membuka celah dalam diri gue, tanpa rasa ragu gue terus berbaring ditempat tidur.
"Assalamualaikum?", sapa seseorang hendak memasuki kamar gue, tapi aneh siapa dia?, gue pura-pura memejamkan mata.
"Abang, bangun udah magrib solat dulu gih", tawarnya, perlahan tangannya menyentuh bahu gue.
"Emmm...." gue hanya mendengung pelan.
Saat mata gue hendak membuka, wanita itu telah berbalik arah.
"Tunggu....!", gue mencoba menghentikan langkah kakinya.
"Loe...eh...salah...kamu...siapa?", tanya gue gugup setengah sadar, baru kali ini gue lihat wanita berjilbab yang baik seperti wanita yang berada dikamar gue sekarang.
"Abang solat magrib dulu", dia terus saja menghindari pertanyaan gue.
"Kenapa kamu selalu kemari?, apa kamu hantu?, atau kamu malaikat penjemput gue?" pertanyaan demi pertanyaan konyol membuatnya menahan senyum dibalik jilbabnya, itu mungkin.
"Sudahlah tak perlu dipikirkan, saya pergi dulu", wanita itu pamit tanpa menjawab semua perkataan gue.
Fikiran gue kembali kepada Vanya, apakah dia?, tapi kenapa?, apakah Khaniva?, tapi kenapa?. Semua ini membuat gue dilema diatas ranjang rumah sakit.
"Bas...loe mikirin apaan, benggong mulu, baru sadar ntar kesambet baru tahu loe?!", Zidan mencairkan suasana hati gue. Gue bersyukur karena Zidan mau jenguk gue saat ini meski gue ngak tahu selama gue tak sadarkan diri apakah Zidan masih memainkan hati cewek diluar sana atau tidak.
"Mana gue benggong, gue cuma laper pengen makan, lagian nih yang disamping gue juga ngak ada, Leonard kemana?", gue menanyakan temen karip gue ya meskipun Zidan temen gue juga tapi selama ini gue lebih akrab sama Leonard.
"Dia keluar bentar, oh ya tadi gue ketemu sama dokter yang nanganin loe, katanya besok loe udah boleh pulang", ujar Zidan membuat hati gue seneng, karena apa gue semakin suntuk, bosen ditempat tidur terus-terusan kayak gini.
"Yang bener loe?", tanya gue memastikan.
"Iya lah masa gue bohong, tadi loe kayak lagi mikir sesuatu, mikir apa an?" Zidan menatap gue memicingkan alisnya naik turun.
"Loe tadi liat orang keluar dari kamar gue ngak?", tanya gue langsung pada inti dari pernyataan gue diawal, karena gue masih penasaran.
"Cowok?" Zidan balik nanya.
"Ya intinya orang loe liat?" gue semakin penasaran.
"Kagak liat, orang gue dateng juga sepi kok, emang kenapa ada yang ganggu Bas?" Zidan menoleh ke arah pintu, mengharap apa yang gue cari ketemu, pastilah nihil, gue yang sedari tadi baring juga cuma lihat belakangnya.
Zidan duduk disofa kamar, nyokap bokap gue malah ngak ada yang dateng buat jenguk gue, cuma tadi siang gue lihat nyokap gue itupun sebentar.
"Hello...how are you...my best friend?", Leonard menghilangkan rasa kantuk dimata gue, tiba-tiba nonggol, ngak ada hujan ngak ada badai tumben amat.
"Ish....loe kurang ajar ya temen lagi sakit juga loe ajarin bahasa inggris lagi haha?!", gue sedikit tersenyum masam.
"Ya...biarlah gue ingin, lagian baru jam segini udah ngatuk aja loe?!", Leonard memdnahi duduknya menjajari Zidan.
"Ya...namanya juga orang lagi sakit bro", Zidan menimpali.
"Gue seneng deh biasa kumpul sama loe lagi, rasanya kayak gue baru hidup lagi", kata-kata gue membuat Zidan dan Leonard menatap ke arah gue berlawanan.
"Haha...it's okey...yang penting loe sehat dulu lah", seperti kembali dimasa gue masih bisa bersama-sama.
Rasa kantuk kini mulai menghadiri kelopak mata, sesaat gue terlelap Zidan dan Leonard pun mengikuti alur mimpi gue, didunianya masing-masing.
Meski begitu mata gue masih belum bisa melekat, gue masih binggung, bimbang berfikir wanita yang tadi menyentuh bahu gue, memanggil gue abang, sikapnya, tutur katanya pun halus membuat gue semakin penasaran dia siapa.
Ditemain kedua sohib gue disofa yang udah pada molor, gue berfikir apakah wanita itu jodoh yang diberikan tuhan sama gue?.
Semua kejadian yang gue alami tidak pernah satu orang pun tahu bahkan Zidan gue tanya ngak melihat wanita berjilbab keluar dari kamar gue.
"Apa benar dia bisa langsung menghilang gitu aja?", batin gue berbicara.
"Khaniva?", pikiran gue tertuju padanya, wanita cantik, sexy berambut panjang yang juga jadi korban cinta palsu Zidan tapi apa benar dia bertaubat?, bahkan Zidan yang pernah menyakiti hatinya pun menjadi korban perasaannya, gue tahu apa yang tidak diketahui sama Zidan. Selama deket sama Zidan, Khaniva pun menduakan hatinya, mungkin bukan cuma dua bahkan Khaniva melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Zidan pada cewek lainnya, dunia memang benar-benar aneh.
Khaniva memang suka mendekati gue tapi selalu aja gue respon biasa tanpa membawa perasaan gue kepadanya. Apa dia bertaubat seperti Zidan?" gue masih berpikir keras.
Ini udah malem loe kenapa lagi dari tadi gue perhatiin kayak lagi mikirin sesuatu, mikir apa loe Bas?", Leonard memecah lamunan gue. Yap mungkin gue dalam cerita ini banyak melamun apa lagi aslinya gaes pasti lebih banyak lagi ngalamunnya.
"Lagi mikirin seseorang yang dateng tiba-tiba terus menyodorkan air minum ke gue", sahut gue.
"Loe kepikiran sama Vanya, loe bener suka sama Vanya?", pertanyaan yang membuat gue mengaruk rambut kepala.
"Hih...bukan dia dodol", seru gue.
"Ha terus siapa jangan-jangan loe udah ada cewek siapa Bas!", kembali Leonard bertanya ke gue.
"Enggak kok udah lupain aja, besok loe juga tahu apa yang gue pikirin" gue menjawab santai tak menghiraukan Leonard yang duduk diam disofa.
"Gue mau tidur terserah loe mau tidur apa enggak , tapi awas loe ntar mimpi Vanya bener an hehehe", sahut Leonard menjajari tidur Zidan.
"Haha...engak mungkin gue bisa suka sama dia", gue berpaling tidur menghadap ke arah tembok membelakangi Leonard.
Tak ada jawaban lagi akhirnya gue bisa memejamkan mata walaupun gambaran wanita berjilbab yang belum gue tahu namanya dan wajah aslinya itu masih tetap menghantui gue saat ini.
****
Hari ini hari kepulangan gue kerumah nyokap, sebenernya masih malas untuk pergi dari rumah sakit tapi lebih lagi gue udah bosen bau obat-obatan orang sakit.
"Hati-hati loe naik ke mobilnya, gue anter loe sampe rumah tapi gue bawa motor jadi loe naik pake mobil rumah sakit sama nyokap loe", Leonard menjelaskan.
"Thank ya gue udah ditemenin sampai saat ini", sahut gue sembari menyentuh bahu Leonard.
"Iya lagian loe sih ada-ada aja, oke gue ikuti mobil nya", Leonard melepaskan gue setelah gue berada di dalem mobil.
Jangan kalian kira gue seperti orang pacaran, masa bodo orang berkata apa yang penting gue ada yang nolongin.
Diikuti Zidan dan Leonard dari belakang mobil yang mengantar gue dan nyokap, akhirnya sampai juga di gerbang rumah nyokap.
Sampai rumah nyokap, gue kembali dibantu Leonard dan Zidan menuruni mobil, dituntunnya sampai didalam rumah.
"Makasih ya kalian udah bantu Bastian sampai saat ini", ujar nyokap gue sesaat setelah memasuki rumah.
"Iya tan, ngak apa-apa oh ya kami pamit dulu ya tan, permisi", Leonard pamit pulang, langkah demi langkah sepatunya mengetuk lantai.
"Enggak main dulu?", tawar nyokap gue saat mengantar Leonard dan Zidan keluar.
"Em...makasih tan, besok aja lagi soalnya ini saya juga ada jam kuliah hari ini" Leonard mengaruk kepalanya, kenapa gue tahu karna gue masih mengintip dari dalem hehe.
"Oh gitu ya sudah hati-hati kalian berdua jangan ngebut-ngebut", percakapan berakhir sampai nyokap gue memberi doa selamat mungkin.
"Kamu istirahat dirumah jangan kemana-mana soalnya kamu masih belum 100 persen sembuh total, mamah mau ke dapur dulu", ucap nyokap sebelum berpaling dari hadapan gue.
"Iya mah iya..." masih sama gue duduk ditempat yang tadi, disofa dengan air mineral penetral tubuh yang diletakkan dimeja sama Zidan tadi beberapa saat lalu.
Tak lama gue pindah tempat, gue mendengar suara bel pintu ditekan.
"Permisi...?" terdengar suara dari bawah.
Mungkin nyokap gue udah mendengar suara itu dan membukakan pintu, dalam hati gue apakah dia wanita yang sama yang menyodorkan minum setelah gue sadar dan membangunkan gue saat magrib menjelang.
"Bastian ini ada temen kamu", suara nyokap terdengar dari balik pintu membuka pintu dan membawa seseorang bersamanya.
"Aghh...iya mah, emmm...gue terpaksa kembali duduk diranjang yang baru aja gue tiduri.
"Tante keluar dulu kalian ngobrol aja", nyokap meninggalkan gue dan Vanya.
"Gimana loe udah baikkan?", tanya Vanya setelah nyokap menutuni anak tangga meninggalkan gue berdua.
"Ya seperti ya loe lihat ni hehe", gue menyeringai menunjukkan senyum gue.
"Lagian sih loe ada-ada aja, oh ya kalau loe udah bener-bener sembuh gue mau nagih janji loe beberapa bulan lalu sebelum loe mengalami kejadian ini loe masih mau?", tanya Vanya mengingkatkan gue pada kejadian beberapa bulan lalu saat Vanya meminta gue menemaninya jalan.
"Ya gue sih ngak maksa lagian nie gue juga pengen sekedar ngobrol aja sih" ujar Vanya lagi sebelum sempet gue jawab.
"Ah...iya besok lah gue coba" gue memberi kepastian.
"Oh ya Bas, gue hampir lupa, nih gue bawain kue kesukaan loe dimakan ya gue buat sendiri loh", sahut Vanya, dia tersenyum simpul.
"Hayo anak mamah, ngak jailin kamu kan nak Vanya?" gue terjingkat mendengar nyokap tiba-tiba nonggol.
"Hehemm...enggak kok tan", jawab Vanya singkat, bangkit dari duduk.
"Ini minumnya, tante keluar lagi ya takut ganggu" nyokap gue menggoda gue dan Vanya. Disisi lain Vanya hanya tersenyum disisi lain nyokap gue cengar-cengir.
"Ish mamah apa an coba, kalau mau ikut ya sini pijitin Bastian tapi hehe" gue sedikit ketawa melihat nyokap gue.
"Iya tan, makasih tan jadi ngrepotin tante deh Vanya", Vanya membuka binir tipisnya.
"Iya sudah kalian lajut deh ngobrol nya" nyokap berlalu.
"Hehe...maaf in nyokap gue ya, nyokap emang suka bercanda", malu-malu gue meminta maaf karena kelakuan nyokap gue.
"Hehehe...iya Bas, santai aja, oh ya gue ngak bisa lama-lama nih, soalnya gue ada jadwal latihan karate". Vanya menanatap jam dinding kamar gue.
"Baru dibuatin minum udah pamit aja, loe ngak enak dikamar gue ya udah turun aja kita ngobrol diluar", gue menawarkan.
"Emm...ya bukan gitu sih", jawabnya ragu.
"Ya udah yuk turun aja". Gue beranjak dari tempat tidur.
Ngak ada suara dari Vanya sampai diruang tamu.
"Loe udah makan?", tanya gue setelah duduk dikursi.
"Udah tadi kenapa?", Vanya balik nanya.
"Kalau belum ntar makan sama gue and nyokap gue lagian dirumah juga berdua doang", jawab gue santai menatap Vanya.
Hanya senyum melebar dari bibirnya,
Jam menunjukkan pukul 17:28 Vanya pamit setelah gue tawarin makan bersama, ngak ditolak dia hanya senyum-senyum.
"Thank ya, gue jadi ngak enak", ujar Vanya setelah selesai makan.
"Iya udah santai aja kali", gue melipat lengan baju dan kembali ke awal dimana gue dan Vanya duduk berhadapan diruang tamu.
Mungkin dirasa sudah terlalu sore Vanya meminta ijin untuk pulang, nyokap gue yang udah pergi duluan setelah masak dan makan meninggalkan gue kembali sendirian setelah Vanya pergi.
Tangan gue memainkan keyboard ponsel menekan tombol-tombol kecil dilayar, tiba-tiba
pikiran gue kembali terbayang wanita beberapa waktu lalu, tapi kenapa dia nggak dateng lagi? Pikir gue sejenak.
Selama ini gue belum pernah menyadari ada wanita baik berjilbab menghampiri gue, yang gue lihat selama ini hanya wanita berhijab yang menatap gue buruk , memang hidup gue hancur sekarang tapi disisi lain gue masih punya rasa yang tak dimiliki orang lain. Gue belajar dari setiap kegagalan dalam hidup, belajar banyak dari semua kenyataan pahit didalam keluarga hingga gue merasa seakan telah mati, gue putus asa, depresi pula tapi apakah gue akan bertaubat dengan tidak meminum obat terlarang lagi?, gue berpikir kritis dalam lamunan gue.
Gue putuskan untuk menenangkan hati dan pikiran dengan keluar runah berjalan mengikuti alur kaki gue.
Ditaman sekitar rumah gue menanatap orang berlalu lalang, disanalah gue duduk menyendiri, dikursi taman dekat ayunan anak-anak disanalah gue bisa bernafas lega seakan ini adalah dunia nyata yang baik dengan ketentraman yang kini gue miliki.
Mata gue menatap kepenjuru taman berharap wanita yang selama ini muncul dihadapan gue datang dengan sendirinya tapi mana kenyataannya nihil tak ada satupun menanatap gue.
Sekarang gue seperti orang linglung disini, untuk apa hal bodoh seperti ini gue lakuin, toh mana ada orang baik yang akan menghampiri gue?, dalam hati gue bertanya-tanya.
"Bas, loe kenapa disini udah hampir sore juga?!", suara memanggil nama gue membuat gue menoleh ke sumber suara.
"Owh...loe Zid gue kira siapa, mau kemana loe?", gue menggaruk kepala, berdiri sejenak.
"Mau ke rumah loe sih tapi gue lihat loe ada disini ya udah gue samperin aja", jawabnya seraya membuka helm dan turun dari sepeda motor.
"Bas, gue mau minta maaf sama loe, soalnya gue banyak melakukan kesalahan sama elo", ujar Zidan menatap gue.
"Ah...iya udah gue maafin lagian gue juga pengen loe itu sadar ya meskipun gue belum sepenuhnya sempurna buat cewek-cewek diluaran sana tapi setidaknya gue belajar dari hidup nyokap sama bokap gue sekarang", jelas gue.
"Pulang yuk" ajak gue kemudian.
"Oke...bareng gue aja" tawar Zidan. Tanpa jawaban gue nyengir menunjukkan gigi putih gue.
Jarak antara rumah dan taman ngak jauh hanya sekitar berapa meter, kenapa gue ngak sebutin soalnya gue ngak mengukur jalan hehehe.
Dijalan gue hanya diam ngak ada suara diantara gue dan Zidan hanya suara mobil dan motor yang saling kebut-kebutan di jalan.
Sampai dirumah, gue ditemani Zidan banyak obrolan yang dibicarakan sampai pada ujung nya hujan menguyur gue membiarkan Zidan tetap dirumah.
"Nyokap loe kemana Bas?", tanya Zidan sesaat setelah petir berbunyi sedikit keras.
"Biasa nyokap gue kerja, pulangnya paling juga nanti jam 18", sahut gue.
"Oh..." jawab Zidan singkat.
Gue masih belum siap buat cerita semuanya entah itu sama Leonard ataupun Zidan tentang wanita yang gue lihat beberapa waktu lalu dirumah sakit, takutnya itu hanya suster yang menangani gue tapi penampilannya tidak menunjukkan bahwa dia seorang suster.
Tapi siapa dia membuat gue semakin penasaran apa lagi sekarang dia tidak lagi muncul dihadapan gue, apa benar dia malaikat penyelamat gue?, gue nyrocos sendiri dalam hati.
"Bas, gue nitip tidur ya ntar kalau udah reda jangan lupa loe bangunin gue hehe" Zidan minta ijin buat tidur di rumah gue.
"Haha iya sanalah kalau perlu loe tidur sampe siang lagi juga boleh alias loe nginep disini", gue menawarkan.
"Hahaha...". Tawa renyah Zidan mengakhiri percakapan.
****
Part 4
SEBASTIAN FRIST LOVE
Kini gue kembali kuliah menjalani aktifitas yang tertunda,
Melihat kembali orang-orang disekitar gue, menyapa dengan baik mungkin.
"Bas, udah sehat loe?", Leonard menghampiri gue di tempat parkir.
"Yap...it's oke gue udah baikkan, loe tumben pagi banget datengnya?", tanya gue memulai percakapan.
"Iya selama loe sakit gue dateng lebih pagi jadi keterusan deh hehehe", Leonard cengengesan.
"Le, gue mau nanya loe boleh?", gue sedikit ragu.
"Hahah...nanya apa kalau loe nanya gue punya uang apa enggak bakal gue jawab, gue punya 50 ribu", Leonard membuka dompet dan membuka isinya.
"Bukan itu yang mau gue tanyain, loe pas kerumah sakit kan jaga gue, bener?", gue basa-basi.
"Iya lah kenapa enangnya?", Leonard menatap gue aneh.
"Loe suka lihat cewek keluar masuk kamar gue ngak waktu gue masih belum sadar?", ucap gue lagi.
"Iya ada", ujar Leonard
"Pake baju apa?", gue mendesak.
"Heh, loe ini kenapa sih tanya ada cewek pake baju apa maksut loe siapa, ya yang gue tahu selama loe koma yang sering jenguk loe itu Vanya setelah Vanya pergi".
gue menghentikan ucapan Leonard.
"Siapa setelah Vanya?", gue makin penasaran.
"Belum juga selesai ngomong udah dipotong aja, emang yang loe maksut siapa?", tanya Leonard lagi, gue yang penasaran tapi Leonard yang antusias.
"Seorang wanita yang menyodorkan air minum saat gue membuka mata untuk pertama kalinya", ucap gue.
"Itu Vanya, Bas masa loe lupa", jawaban yang ngak pasti dari Leonard.
"Bukan, wanita berjilbab Le", gue semakin mendekati ke curhatan penasaran gue.
"Mana, orang ngak ada lagi selain Vanya waktu itu, emang loe lihat mukanya siapa?", Leonard lagi-lagi mendesak gue.
Gue hanya menggelengkan kepala tandanya gue ngak tahu.
"Hahah....mungkin nih, loe itu cuma berhalusinansi, loe juga ngak lihat mukanya kan?, loe juga belum kenal dia kan?, pertanyaan demi pertanyaan di berikan sama gue.
Masih tetap gue menggeleng tanda ngak tahu menau.
"Udah masuk aja dari pada loe binggung mikir cewek yang ngak pasti loe temuin!", ujar Leonard sembari bangkit meninggalkan gue.
Gue ikuti langkah kaki Leonard yang menuju ruang kelas.
"Siapa dia?", gue bertanya-tanya sendiri.
Didalam kelas gue tak menghiraukan dosen berbicara apa, yang gue tahu sekarang gue benar-benar dilema, pikiran ini menganggu setiap kegiatan gue.
"Bas, pulang..." terdengar lamat-lamat suara memanggil nama gue.
"Bas...ehemzz..." kembali gue denger perlahan.
"WOY...MAU PULANG NGAK!", terdengar keras ditelinga gue.
"UWAH...kurang asem siapa nih bikin kaget gue aja!", gue terjingkat kaget.
"Gue...loe mau pulang ngak udah selesai dari tadi gue panggil-panggil ngak nyaut, jangan-jangan loe ngak denger lagi dosen bicara apa aja?!", seru Leonard.
Gue hanya nyengir masam, sedikit memanyunkan mulut gue, gila apa gue denger orang pikiran gue kemana-mana, batin gue menjawab pertanyaan Leonard beberapa menit lalu.
"Emang bilang apa aja Le?", gue membuka mulut.
"Ampun deh, loe sebenrnya kemana aja, dari tadi diem aja kayak patung pancoran loe?!", sentak Leonard.
"Hehe...sorry...gue lagi binggung, lagi mikirin orang yang udah bikin gue penasaran setengah mati", ujar gue lagi.
"Ehemmm....gimana kalau loe cari aja orangnya?", saran yang bagus dari Leonard.
"Tapi mau cari dimana dunia luas bro!", seru gue membentuk bulatan diawang-awang.
"Iya apa salahnya berusaha dulu?",
Gue berpikir apakah bisa?, atau gue membiarkannya pergi gitu aja?, gue mengacak-acak rambut.
Sinar masih memancar udara siang semakin panas, dilema gue semakin dalam, makin lama gue gundah sendiri.
****
Hari begitu cepat berlalu tak lagi gue dapati wanita berjilbab yang pernah gue lihat apa benar dia hanya halusinasi mata gue?", kembali gue mengangan-angan.
"Mah, mamah pernah lihat cewek masuk kekamar Bastian waktu dirumah sakit nggak?", gue memutuskan bertanya sama nyokap gue kali aja nyokap gue mengenalnya.
"Siapa Vanya?, Khaniva?", sebut nyokap.
"Bukan, tapi wanita itu berjilbab mah?!", gue memberi tahu.
"Ha...kayaknya mamah ngak lihat tu, siapa dia?", nyokap balik nanya.
Orang anaknya tanya malah balik nanya?!, batin gue.
"Ya udah lah kalau ngak tau Bastian pergi dulu!", gue beranjak meninggalkan nyokap sendiri diruang tamu.
"Mau kemana?", tanya nyokap lagi.
"Kerumah Leonard", gue singkat menjawab.
Dijalan sepeda motor gue melaju dengan kecepatan tinggi, tak gue hiraukan orang yang gue salip entah wanita atau pria entah tua atau muda.
"Siapa dia, membuat gue selalu berpikir, orang disekitar gue ngak tau siapa dia yang gue maksut semua mengarah ke Vanya atau Khaniva?!", tapi benar kah?, gue semakin gila memikirkannya.
Perlahan sepeda motor gue memasuki perumahan tempat lomba liar dimana disana ada tempat yang gue gunakan untuk menenangkan diri.
Gue memasuki bangunan tua itu sendiri berharap seorang yang menolong gue dateng.
Langkah kaki gue lemah seakan gue telah putus asa, mencari sosok wanita itu, gue menatap langit biru, menatapnya tajam dan penuh pertanyaan.
Gue putuskan untuk pergi dari tempat bagunan itu. Menuju kemana kaki akan melangkah sampai dihalte gue membelokkan sepeda motor kearah selatan jalan ini merupakan jalan dimana rumah Leonard berada.
"Semoga Leonard dirumah", harap gue dalam hati.
Bangunan bermotif jaman kapan yang gue tahu rumah itu berdiri sejak Leonard belum ada disini.
Motif banguan ala luar negri yang bagus menurut gue, cat warna biru muda dengan selingan warna lain membuat rumah seakan hidup dan nyaman untuk ditinggali.
"Permisi...spada...?", teriak gue setelah memasuki pelataran.
Belum ada jawaban apa mungkin Leonard pergi?", gue bertanya-tanya sendiri.
"Leonard...loe dirumah?", masih diluar gerbang.
"Iya mas, mas nya cari den Leo?", seorang wanita keluar dari dalam rumah, penampilan seserhana membawa lap di bahunya.
"Iya...leonard ada dirumah?", gue langsung ke intinya.
"Maaf den, mas Leo nya baru aja pergi, apa mau ditunggu dulu didalam?", tawarnya menyuruh gue menunggu.
"Kira-kira jam berapa Leonard pulang bi?", gue masih di depan gerbang dengan pintu yang terbuka.
"Saya tidak tahu juga", ujarnya.
"Mmmzz...ya udah nanti kalau pulang bilangin ya kalau Bastian cari dia, saya permisi dulu, mari bi", gue pergi meninggalkan rumah Leonard yang sepi hanya pembantu rumah tangga yang berada didalamnya. Gue tahu dia tapi mungkin ngak perlu gue jabarin.
Tanpa kata-kata lagi gue menaiki sepeda motor berlalu dan menuju ke rumah.
****
Malam menjelang berlalu dengan sebuah angan-angan berdoa dan berharap menanti dan masih berpikir keras.
Bidadari kah yang dateng waktu itu?, mana mungkin, ini dunia nyata?, atau jangan-jangan dia hantu kalau ini mungkin soalnya waktu gue pengen lihat wajahnya dia ngak berpaling kearah gue? Pikiran semakin kesana-sana, tapi dia kan kakinya napak lantai tangan nya juga memegang pundak gue?.
"Bastian ada temen nya ini, ada Leoanrd sama Zidan!" teriak nyokap gue dari lantai bawah.
"Iya tunggu...!", gue meneriakki dari kamar. Tak lama gue turun dengan penampilan gue yang ancur.
Rambut acak-acak an, baju klusuh, seperti ngak pernah dirawat.
"Hahaha...loe lagi kerja dibangunan bro?!" ujar Leonard setelah melihat gue.
"Hehe...gue lagi bangun kepribadian gue, lagian mana bisa gue kerja dibagunan yang ada badan gue sakit semua", jawab gue setelah duduk menjajari mereka berdua.
"Kok loe barengan?", tanya gue sesaat.
"Iya barengan tadi papasan dijalan", jawab Zidan.
"Mau minum apa loe berdua gue bikinin tapi jangan minta jus buah naga gue ngak ada hehe?!", gue bangkit menuju dapur membuat dua gelas air minum, jus jeruk kesukaan Zidan and Leonard kalau lagi ngumpul.
"Nyokap loe ngak kerja Bas?", tanya Leonard setelah gue kembali dari dapur.
"Kerja tapi kayaknya nanti jam tujuh kenapa tumben loe nanyain nyokap gue ?", gue memicingkan alis.
"Ya gak apa-apa, oh ya tadi siang kata bibi gue, loe kerumah ngapain?", menatap gue.
"Ya mau main aja, emang loe tadi kemana?"
"Biasa jalan-jalan olahraga di tempat biasa", jawab Leonard.
Zidan hanya mendengarkan ocehan gue dan Leonard, dia asik dengan ponselnya dan cemilan yang gue sajikan.
"Loe masih penasaran sama cewek yang datengin loe itu?", tanya Zidan sesaat kemudian, menatap gue dengan banyak pertanyaan.
"Hemmzz...iya sih penasaran siapa sebenernya dia", jawab gue.
"Kenapa loe ngak coba dateng lagi ke rumah sakit siapa tahu dia keeja disana?!", ucap Leonard menatap Zidan bergantian melihat kearah gue.
"Yakin itu berhasil?", gue kurang percaya.
"Apa salahnya dicoba ya nggak Zid?", Leonard menatap Zidan.
"Bener banget", sembari mengacungkan jempol.
Malam semakin larut dalam kegelapan. Gue, Zidan dan Leonard masih asik menatap bulan dipelataran, asik memainkan gitar gue dan asik menyanyiakan lagu-lagu jaman dulu. Serasa hidup gue kembali ke masa 80 an.
"Gue ngantuk sekarang, gue tidur dirumah loe ya soalnya udah malem banget takut ada begal hehe!", Zidan memecah kebisuan.
"Haha...bilang aja loe emang pengen nginep dirumah Bastian?!", tawa Leonard menepuk pundak Zidan.
"Iya sana kalau mau tidur duluan ada kamar kosong", gue mempersilahkan.
Jam menunjukkan pukul 23:00 gue dan Leonard sudah berpindah ke kamar tapi masih tetap gue terjaga.
"Loe belum tidur?", Leonard mencairkan suasana malam.
"Belum loe juga kenapa belum tidur?" gue balik nanya.
"Gue belum ngantuk" Leonard duduk di ranjang gue menjajari gue berbaring.
Tapi sayup-sayup mata gue terasa berat kantuk gue dateng secara tiba-tiba saat Loemard telah lebih dulu tidur di ranjang gue.
Gue putuskan untuk pindah kamar meskipun kamar gue luas tapi masa iya gue sekamar sama Leonard.
"Huft...semoga besok menjadi hari yang indah bagi gue", gue bangkit meninggalkan kamar dan pergi keluar menuju kamar sebelah.
****
Bandung, kota yang panas dan luas mana mungkin gue bisa temukan wanita itu dalam sehari?.
Kuliah kembali gue kali ini mencoba mengendarai sepeda motor dengan berhati-hati karna gue takut jatuh lagi, dan kesempatan untuk melihat orang-orang disekitar gue, ngak akan luput dari pandangan.
Terutama untuk seorang wanita yang sudah bersemayam dalam hati gue.
Bangunan kampus masih terlihat sama. Tak ada yang berbeda saat gue berjalan menelusuri koridor, melewati kantor dosen, melewati setiap kelas.
Tiba-tiba gue berpapasan dengan seseorang, tangan gue sempat bersenggolan dengannya, tapi gue hiraukan, gue menatap nya tapi dia tidak berbalik arah untuk sekedar melihat gue.
"Apa dia anak baru?" batin gue, masih dengan melanjutkan langkah kaki menuju kelas.
"Woy...mikirin apa Bas?!", teriak seseorang.
"Eh...elo, gue kira siapa, baru berangkat?", tanya gue ke Vanya.
Ngak dijawab hanya mengangguk. Di kampus ada anak baru Van?" gue memutuskan bertanya.
"Anak baru ngak tau juga, kenapa?", Vanya menatap gue.
"Hehe...gak kok , nggak apa-apa", gue canggung.
Langkah demi langkah gue lewat jalan bersama Vanya sampai di ruang kelas. Gue melihat Leonard sudah berada didalamnya.
"Hay...bro..."gue menyapa.
"Ehem...loe sama Vanya pagi-pagi udah ngapelin anak orang loe Bas heheehee", Leonard berdehem melihat gue masuk bareng Vanya, senyum nya megembang dipagi hari, lesung pipitnya terlihat dalem.
"Eheheh...enggak tadi ngak sengaja gue ketemu dikoridor", Vanya menjawab dengan santai.
Gue duduk menjajari Leonard belum juga pantat gue nempel Zidan masuk ke kelas gue.
"Zid loe nyasar?", Leonard menatap Zidan.
"Enggak emang gue sengaja masuk kesini dikelas masih sepi sih", jawab Zidan berdiri menjajari tempat duduk gue hendak ikutan duduk.
Dikelas banyak obrolan yang terjadi, gue menatap Vanya, tatapannya tajam menatap gue. Tepat dibola mata gue dia memperhatikan gue berbincang.
Ada apa dengan Vanya? batin gue.
Gue dan Vanya bertatap mata sekitar 5 menit tapi gue memanngnya sekedar teman biasa ngak ada perasaan apapun antara gue dan Vanya tapi entahlah.
"Gue pergi dulu dosen gue udah mau masuk tu!", Zidan bangkit dari duduknya.
"Oke...", gue menjawab singkat.
Diikuti anggukan Vanya dan Leonard.
Pelajaran dari dosen gue dengerin baik-baik tidak lagi gue memikirkan wanita brrjilbab itu yang gue pikirin masih sama yaitu siapa dia?, yang bikin gue semakin dilema.
Jam telah usai gue tak menghiraukan dosen keluar, mahasiswa kembali dengan aktifitasnya diluar begitupun gue, Leonard dan Zidan.
"Zid, Le, gue pulang duluan ya?!", gue membuka percakapan.
"Tumben loe pulang cepet biasanya juga loe main dulu?!", Leonard menimpali.
"Lagi pengen dirumah aja, lagian gue juga lagi pusing", gue mengacak-acak rambut kepala.
"Mikirin cewek mulu sih loe, hahaha...!", Leonard menertawai gue.
Tepat saat Leonard berhenti bicara Vanya dateng membuat mulut Leonard di bungkam sendiri pake tangannya.
"Ehh...Vanya, dari mana mau kemana nih?", Zidan mencairkan suasana.
"Dari ketemu dosen, mau pulang loe bertiga disini aja, emang ngak ada tugas-tugas?", Vanya bersikap santai.
Kami bertiga kompak menggelengkan kepala.
"Kompak amat sekarang, emm...gue duluan ya gaes?!", Vanya berlalu.
"Oke hati-hati...", Leomard menjawab.
"Gue ikutan pergi dulu ya...good bye...", ujar gue setelah Vanya berlalu.
"Haha..okey...bro jangan mikirin cewek mulu?!", celetuk Leonard.
"Haha...kurang asem loe, siapa juga yang mikirin", kaki gue melangkah meninggalkan Zidan dan Leonard di taman kampus.
Sepeda motor gue kini telah membelah jalanan kota Bandung. Kemacetan, keramaian, bising suara mesin-mesin kendaraan membuat telinga gue seakan tak mendengar apa-apa karna tertutup helm dan kecepatan kendaraan gue yang tinggi.
Menjelang sore gue duduk ditaman kota, sendirian tanpa Leonard, karna gue lagi pengen sendiri membuat gue meninggalkan temen-temen gue.
"Abang...?", celetuk seseorang.
"Maaf apa kita pernah kenal?", gue binggung, canggung mau bicara apa.
"Abang Bastian kan?", tebak orang itu.
"Cantik sekali?" batin gue.
"Iya, kamu jangan-jangan wanita yang menawari aku minum dirumah sakit itu?", gue mencoba menebak.
"Abang tahu saya?" pertanyaan aneh dari wanita berjilbab keabu-abuan itu.
"Yah, mana saya tahu, emm...jangan-jangan bener lagi?!", gue menerka-nerka.
"Iya bang, maafin saya ya main pergi begitu aja, saya belum siap ketemu sama teman-teman abang", jelasnya.
"Okey Fine, what is your name?", gue belagak bahasa inggris, sembari memutar bola mata.
Nampak dibibir nya senyum melebar membuat hati gue berdetak kencang.
"Yes, I'm farah Elisha and you can call me Elisha", jawabnya.
"Lalu kamu kenapa bisa kenal saya, kenapa kamu datang lalu tak pernah ada kabar?", gue memnerinya banyak pertanyaan.
"Saya yang menolong abang waktu itu didalam rumah sepi yang tak berpenghuni. Waktu saya jalan, saya memdengar orang merintih meminta tolomg lalu saya panghil warga buat membawa abang ke rumah sakit, sekarang abang udah sehat, jangan diulangi lagi kasihan orang tua abang yang nunggu abang semalaman", jelas Elisha panjang kali lebar.
"Ha...orang tua saya?", gue bertanya binggung, emang nya nyokap bokap gue peduli banget sampai segitunya.
"Abang...?", Elisha memanggil nama gue.
"Ehm...iya, oh ya jangan panggil abang, Bastian aja lagian cowok brandal kayak saya ngak pantes dipanggil abang, selama ini kamu dimana kok kita pas banget ketemu disini?!", gue mencoba bertanya-tanya.
"Saya dirumah dan ini saya cuma lagi jalan-jalan aja dan kebetulan saya lihat orang yang saya tolong ada disini yah saya samperin aja", ujar Elisha.
Gue tak menjawab hanya mengangguk, menunduk menahan malu.
Seorang Bastian malu sama cewek berhijab, ya itulah hidup kadang orang lain bersikap tak peduli, nakal tapi hatinya masih bersemayam kebaikan yang tersembuyi mungkin seperti gue saat ini.
"Abang Elisha pergi dulu udah sore nih", Elisha berdiri dari duduknya.
"Tunggu, apa saya boleh main kenal kamu?", tanya gue memastikan.
"Oh, boleh ini kartu nama Elisha disitu ada alamat sama nomor telephone Elisha", sembari menyodorkan kertas kecil berisi alamat rumah, Elisha bersenyum untuk terakhir kalinya sebelum ninggalin gue sendirian.
****
Jam menunjukkan pukul 18:33, mata gue menatap bintang-bintang berhamburan lewat jendela kamar, menatap bulan yang sendirian.
"Elisha?", celetuk gue. Tiba-tiba gue ingat nomor ponsel dan alamat Elisha dari kartu kecil yang terselip di kantong celana gue, gue mengambilnya, dan mencatat nomor ponsel nya, gue taruh lembar kertas diatas meja belajar.
Gue ragu buat mengirim pesan lebih dulu tapi kenapa?, hati gue berkata-kata.
"Tqpi ini kesempatan gue buat kenal cewek itu, mungkin kah dia yang akan mengisi kekosongan hati gue?", hati gue masih bertanya-tanya.
Elisha, wajahnya cantik, senyumnya manis, tinggi badan ideal, berhijab, dan mungkin juga baik, bola matanya coklat cerah. Itulah penjabaran dari Elisha yang gue pandang dari diri gue sendiri.
"Gue akan ke rumahnya besok", hati gue memutuskan.
Bagi gue sekarang adalah gue bisa bekenalan dengan dia wanita yang sudah bikin gue dilema selama ini, minggu berganti-ganti akhirnya dia datang dengan sendirinya sore ini, mungkin kah esok gue akan bertemu lagi?.
Rasanya masih tidak percaya dengan kejadian yang gue alami tapi mau gimana lagi mungkin inilah yang dinamakan takdir gue akan bertemu Elisha ditaman itu.
Gue berbaring diranjang, mata gue menatap langit-langit kamar menggambarkan senyum Elisha diatas sana.
"Bastian...?", suara nyokap gue dibalik pintu.
"Iya mah?", jawab gue.
Nyokap memasuki kamar gue, nyokap melihat selembaran kertas kecil yang gue taruh di atas meja.
"Nomor siapa ini Bas?", nyokap gue kepo.
"Hehe ada deh", celetuk gue, sembari bangkit dari ranjang.
"Hayoo...anak mamah udah punya cewek ya?", nyokap gue cengar-cengir melihat anak semata wayangnya punya nomor cewek.
"Bukan, itu nomor wanita yang nolongin Bastian waktu Bastian pingsan beberapa bulan lalu", jelas gue singkat.
"Ketemu dimana?", nyokap berpaling menatap gue.
"Ditaman tadi sore, dia yang nyapa Bastian duluan", ujar gue.
"Itu artinya dia masih ingat sama kamu, terus kamu udah kenal namanya?", tanya nyokap. Gue rasa nyokap belum membaca nama yang terpapar dikertas alamat itu yang nyokap tahu cuma nomor ponselnya doang.
"Elisha namanya" ujar gue sesaat kemudian.
"Oh...ya sudah kalau gitu jadi Kamu udah ngak galau, dilema lagi?", nyokap menutup bibirnya senyum dibalik tangan.
"Haha...enggak lah, mana mungkin Bastian galau", jelas gue.
"Ya udah tidur sana jangan pergi main, besok kamu kuliah kan?" nyokap menaruh kertas alamat diatas meja, berpaling pergi berlalu dibalik pintu kamar.
Senyum gue tergambar saat nyokap mengoda gue, wajah gue tergambar jelas dimata nyokap. "Elisha akankah dia wanita yang akan menjadi pendamping hidup gue?", kembali gue merenungi.
Mata gue terpejam bayangnya hadir disetiap kedip mata gue, saat gue membuka mata dia hilang begitu aja, semoga esok akan kembali dengan gue bisa berjumpa Elisha lagi.
****
Hidup memang tak bisa diduga-duga seperti cuaca yang tak menentu, tadi malam rasanya cerah dengan udara sepoy-sepoy semilir memasuki kamar melewati celah jendela tapi pagi ini, gerimis melanda mendinginkan suasana.
"Huft...", gue menarik nafas.
Bangkit dari ranjang bersiap mandi, berganti baju, sarapan, memanasi sepeda motor dan berlalu pergi meninggalkan rumah yang sepi.
Nyokap udah pergi dari subuh tadi, meninghalkan gue semdirian dan menyiapkan semuanya sendiri.
Pagi ini meski gerimis tapi hati gue seakan bunga bermekaran, masih gue ingati Elisha yang sama yang gue kenal satu hari yang lalu.
Sebelum mendarat ke gedung pencakar langit alias kampus, gue putuskan untuk pergi kerumah Elisha terlebih dahulu.
"Elisha I came, I hope you are at home this morning, you will be encouraging every morning", puitis sesaat hehe.
Alamat Elisha gue temukan disana tertulis nomor yang sama "45" jalan mawar dijalan yang sepi gue parkirkan sepeda motor, gue turun beranjak melangkah ke rumah Elisha mungkin semoga tidak salah.
"Permisi...?" gue mastikan ada orang atau tidak.
"Iya den, cari siapa?", seorang wanita sedikit tua keluar dari rumah besar bercatkan merah muda, banyak bunga yang menghiasi pelataran, suasananya juga kelihatan asri.
"Apa benar ini rumah Elisha?", gue kembali memastikan.
"Oh, den ini siapanya non Elisha ya?", tanya wanita itu, menatap gue dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Saya teman Elisha, apa Elisha nya ada?", tanya gue lagi.
"Non Elisha sudah berangkat pagi-pagi tadi, coba den kemari lagi nanti siang", ujar wanita yang tak gue tahu namanya.
"Oh...dia kuliah?", gue kembali bertanya.
"Iya den, Pulangnya kalau hari kamis biasanya siang", jelas nya lagi.
"Ohw...ya sudah kalau begitu saya pergi dulu", gue pamit meninggalkan rumah Elisha.
Hati gue seakan menemukan harta karun tersembunyi, baru dateng udah bener itu rumahnya, tapi sayang Elisha sudah pergi.
Gue kembali mengendarai sepeda motor, berlalu menuju kampus. Tak harus berjam-jam gue telah berada di tempat parkir.
"Leonard kemana?", tanya gue dalam hati.
"Hay Bas...tumben baru berangkat?", Vanya menyapa gue saat kaki gue melangkah meninggalkan tempat parkir.
"Iya tadi gue mampir ke rumah temen dulu", jelas gue.
"Temen loe bukannya udah berangkat Leonard sama Zidan kan?", tanya Vanya memastikan.
"Hehe....bukan mereka" gue mengaruk rambut kepala yang ngak gatal.
"Terus siapa?", Vanya menatap gue.
"Emmm...ada deh...", gue masih ragu menceritakan Elisha sama Vanya, gue putuskan untuk menyembunyikannya.
Sekian lama gue satu kelas diperkuliahan dengan Vanya tapi entah kenapa gue baru ngrasain Vanya itu berbeda, saat menatap gue, saat menyapa gue, saat bercanda sama gue, saat dia selalu bersama gue duduk dikelas bareng, tapi entah kenapa gue merasakan ada yang berbeda dari dia, kenapa? Batin gue. Setelah lepas dari ingatan Elisha gue kembali memikirkan Vanya.
"bass, where have you been, I'm looking for you too, I thought you were doing something stupid again to the point that you didn't come back today, eits ... why did I see you beaming at you again in love Bas ?!", Leonard menebak-nebak keadaan gue.
"Loe kenapa cari gue mau kasih bayaran loe ke gue?!", canda gue.
"Haha...enggak lagian loe gue tunggu dari tadi ngak nonggol-nonggol, loe habis dari mana?" tanya Leonard lagi, kali ini kakinya mencoba menjajari langkah gue.
"Gue jatuh hati pada...", belum selesai gue melanjutkan udah dipotong sama Leonard.
"Jatuh hati sama Vanya?!", jawab Leonard antusias.
"Eh...bukan..!", gue mencoba membungkam mulut Leonard, tapi sayang ngak kena.
"Hati-hati kalau ngomong gue takut Vanya tiba-tiba nonggol", celoteh gue.
"Le, gue udah nemuin siapa cewek yang datengin gue waktu gue sadar dari koma", gue menatap wajah Leonard, matanya melebar seakan mau copot.
Yee...biasa aja dong matanya natar lepas baru tau loe?!", ujar gue.
"Haha...asem loe, eh siapa dia, dia cantik?, orang mana?, namanya?,..." kali ini gue membungkam mulut Leonard dan mgak lepas.
"Ih...tangan gue jadi bau...loe habis makan sama sama sih?.." saat gue membuka mulut Leonard dan mencium telapak tangan gue sendiri.
"Hahaha....kenapa bau, enak aja gue makan sama yang enak dimakan kali Bas, gimana sama cewek yang loe kenal itu, kenapa jadi bahas gue?!", Leonard mengingatkan lagi.
"Namanya Elisha, orangnya cantik, baik, tapi dia seakan udah kenal lama sama gue, waktu ditaman kemaren dia yang nyampeein gue duluan terus dia juga tahu nama gue duluan", jelas gue panjang lebar.
"Ya mungkin aja dia emang ditakdirkan buat ketemu sama elo, kalau masalah dia kenal deket sama elo itu urusan belakangan!", Leomard menjawab.
"Oh ya satu lagi, gue pernah diajak jalan tapi kali ini bukan dari Elisha..." gue menghentikan omomgan gue setelah sampai di koridor kampus.
"Terus sama siapa?", tanya Leonard sesaat.
"Vanya", gue menjawab pelan.
"Ha...gila berani bener tu cewek, terus maksut dia apa?", Leonard semakin antusias.
Entah lah, tapi belum janji sih gue, mungkin nanti malem gue akan menemui Vanya seperti yang dia mau", lagi-lagi gue memicingkan mata menatap Leonard.
"Oke...semoga PDKT loe sama Vanya berhasil ya Bas, sebagai temen, gue berharap baik, jadi nakalnya bisa loe kurangin dengan ada Vanya?!", kata-kata Leonard serius menatap gue, sembari senyum-senyum.
"Haha...enggak lagian gue ngak ada perasaan apa-apa sama dia", elak gue.
"Le, Bas, loe ada jadwal ngak hari ini?!" Zidan memecah percakapan gue dan Leonard.
"Kenapa... Loe mau trakir kita-kita?!", ujar Leonard setelah menatap Zidan.
"Ya gue mau ajak loe balapan sama temen-temen gue nanti siang, mau ikut?" tawarnya.
Gue kembali saling menatap ke Leonard berpikir sejernih apa gue sekarang.
"Emm...tapi gue ada acara hari ini...", gue menjawab duluan.
"Kalau loe Le... Bisa?", Zidan berharap penuh sama Leonard.
"Hehe...bisa sih tqpi gue males kalau ngak sama Bastian, loe aja gih sendiri sorry", merasa tak enak hati gue sama Leomard meminta maaf sama Zidan.
"Okey...no problem lain kali aja...gue masuk kelas dulu ada jadwal pagi hari ini", Zidan pergi ninggalin gue dan Leonard.
****
Hari ini gue putuskan untuk menemui Vanya dan hari ini adalah hari dimana gue bakalan tau apa isi hati Vanya sesungguhnya ke gue tapi apa dia mau jujur ke gue?, atau dia cuma ngajak gue jalan ngak ada artinya?, oke gue ngak boleh se-udzon sama Vanya yang gue tahu Vanya cewek yang baik.
Tatapan gue menatap sosok Vanya yang ceria dan periang disebrang sana, di halte jalanan kota, gue putuskan menghampirinya sebelum dia benar-benar pergi naik angkutan umum atau jemputan.
"Hay...bareng gue yuk?", setelah sampai dihadapannya gue menawarkan jasa.
"Gue...?" Vanya binggung melihat gue.
"Lah iya masa setan...ayo naik?!", celoteh gue.
Ngak ada jawaban dari Vanya, hanya tersenyum dan mulai memegang bahu tangan gue untuk naik disepada motor gue tentunya.
"Van, gue mau tepatin janji gue ke elo yang loe ajak jalan ke gue beberapa bulan lalu sebelum gue koma, loe emang mau ngomong apa an sih?", gue membuka percakapan di jalan, kendaraan gue kendarai tak secepat saat gue jalan sendiri, hanya 40 km/ jam.
"Emmm....Bas, kita berhenti ditaman kota bentaran aja, ngak perlu nanti malam sekarang juga ngak apa-apa, tapi loe ngak meberatan kan, gue ngomong sesuatu?", Vanya seakan canggung sama gue.
Akhirnya gue putuskan mencari tempat yang nyaman buat ngobrol sama Vanya, disinilah tempat yang asik buat ngobrol, ditaman dengan pohon rindang, dengan kursi yang berjajar, bunga-bunga menghiasi pelataran taman, hanya gue lihat beberapa glintir orang yang berlalu lalang mungkin karna belum terlalu sore jadi belum banyak yang main ke tempat ini.
"Bas..." Vanya mencairkan suasana.
"Eh...iya...kenapa Van?", gue gugup, tak pernah gue segugup ini melihat Vanya, biasanya juga duduk bareng.
"Sebenarnya gue udah lama nyimpen perasaan ini ke elo..." Vanya belum menyelesaikan omonganya gue telah lebih dulu memotongnya.
"Loe suka sama gue....?!", gue menatap Vanya, banyak harapan yang terselip dimata Vanya tapi mau gimana gue tak ada perasaan apa-apa.
Hanya anggukan kepala yang ditunjukkan ke gue ngak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir tipis Vanya.
"Tapi Van, gue..." Vanya memotong perkataan gue.
"Tapi kalau emang loe ngak bisa, gue terima kok ngak apa-apa", Vanya tersenyum dibalik air matanya.
"sorry, it's not my intention to hurt you, but I don't have any feelings for you, and I'm currently captivated by a woman that I don't know about him but I already know his name sorry I'm straight to the point because I'm afraid you hope to be full of me". Gue menjelaskan.
"Okey...mungkin gue terlalu berani untuk mengungkapkan perasaan gue, tapi loe masih mau kan temenan sama gue?", Vanya memutar kata-kata.
"Santai aja gue tetep temen loe kok", gue melegakan hati Vanya.
"Mau gue beli in minuman?", tawar gue ke Vanya.
"Traktir gue nih ceritanya hahaha", tawa nya memecah kebusuannya.
"Iya gue traktir". Akhirnya gue bangkit memwgang rambut Vanya, mengelusnya pelan dan mencubit hidungnya.
"Gue tunggu disini aja ya Bas, kan elo yang mau traktir gue!", Vanya kembali tersenyum, gue balas senyuman itu penuh kasih.
"Gue ngak tau siapa yang akan jadi pilihan guw nanti, gue hanya tau kalau wanita yang gue kenal selama ini mencintai gue setelah dia jujur sama gue, tapi hati gue bertolak belakang, gue seakan menginginkan Elisha wanita berparas cantik lembut dan anggun, membuat gue terpesona untuk pertama kalinya". Batin gue, hati gue bimbang memilih mana yang baik buat gue saat ini.
Gue kembali dengan sebotol air minum dan sedikit cemilan untuk Vanya, setidaknya dia akan merasa tenang setelah gue bersikap seolah gue adalah abang dia sendiri.
"Pulang yuk?!", ajaknya bangkit dari duduk.
"Baru sampai udah pulang aja, loe capek?", tanya gue.
"Iya gue capek banget nih", ujar nya.
Tangan nya tak sengaja gue pegang, sampai di tempat sepeda motor gue berada, gue kembali mengacak-acak rambut Vanya, dia hanya tersenyum menatap gue.
"Thank..." ucapan Vanya terhenti.
"Thank buat apa?", gue kembali bertanya.
"Untuk hari ini...", ucap Vanya lagi setelah membonceng gue.
"Okey...ngak masalah", ujar gue.
Kembali tak ada kata-kata sampai dirumah Vanya gue langsung pamit meninggalkan rumahnya.
Dijalan gue mengingat Elisha apa dia sudah pulang ya?, harapan gue dalam hati.
Gue kembali mendatangi rumah Elisha sebelum gue pulang kerumah, gue akan melihat bidadari gue sesaat saja.
Pelataran luas kini berada dimata gue, mobil warna silver telah berada didepan garasi.
"Mungkin itu Elisha?", gue berharap penuh.
"Permisi....", ucap gue dari luar garasi yang terbuka sedikit.
"Iya tunggu....", kali ini suara gue dengar lamat-lamat dari dalam rumah meski rumahnya besar kalau ada tamu tetep denger meski pun ngak ada bel didepan pintu sekaligus.
"Iya siapa ya?", wanita sebaya lebih tua dan masih lebih muda dari wanita yang gue temui tadi pagi.
"Apa benar ini rumah Elisha?", tanya gue canggung.
"Benar...kamu siapa ya?", tanya wanita itu, sepertinya kalau dilihat dari penampilannya dia adalah ibu Elisha.
"Emm...saya teman Elisha tan, Elishanya ada?"
"Oh teman anak saya, tunggu didalam duduk-duduk dulu", ajak nyokap Elisha, gue mengikuti langkahnya dan berhenti didepan pintu disana lah gue duduk menunggu Elisha.
"Saya panggil Elisha dulu ya", nyokap Elisha meninggalkan gue sendiri dikursi depan.
Gue tak menjawab hanya mengangguk, benerapa saat setelah gue menunggu kira-kira 5 menit, Elisha dateng tanpa nyokapnya, senyumnya mengembang membuat hati gue berdebar-debar.
"Maaf abang nunggu lama ya?" tanya Elisha kemudian setelah sampai dihadapan gue.
"Enggak kok baru aja nyampe, Elisha lagi sibuk ngak?", gue iseng tanya-tanya.
"Enggak kok, kenapa?" tanya Elisha sembari duduk dikursi bersebelahan sama gue.
"Pergi keluar yuk?!" ajak gue.
"Keluar...kemana?" Elisha menatap gue. Tatapannya tajam menusuk celah mata gue.
"Ayo bentar aja?!", gue kembali menawarkan.
Elisha mengangguk, bangkit dari duduk dan pergi masuk ke dalam, mungkin mau ijin ke nyokapnya? Batin gue.
Tak lama Elisha datang lagi membawa tas kecil.
"Mau jalan sama aku?" gue memastikan.
"Iya abang mau", kembali senyumnya mengembang.
Setelah gue ajak jalan banyak cerita yang gue berikan sama Elisha, mulai dari hidup gue, kuliah gue, sikap gue, dan gue yang masih dalam keadaan jomblo pun gue jabarin ke Elisha.
"Makan yuk?", tawar gue.
"Iya bang, makan dimana?", tanya Elisha.
"Ayo ikut aja pasti suka deh?!", gue menggandeng tangan Elisha, tanpa sadar Elisha pun tak melepaskan pegangan tangan gue.
"Entah kenapa aku suka jalan sama kamu, kamu orangnya asik banget Sa, kamu ngak keberatan kan jalan sama abang?" gue menatap Elisha sebelum Elisha menyantap makanan yang gue pesenin buat dia.
"Emm...enggak lah kenapa emang nya?" Elisha menatap gue ragu.
"Hehe...enggak apa-apa", gue plin-plan.
"Dimakan lagi..." ujarnya.
Jam menunjukkan pukul 14:56 gue ajak Elisha pulang, takutnya ntar gue kena damprat sama bonyokanya.
Setelah sampai di rumah Elisha gue pamit langsung pulang.
"Gue balik dulu ya makasih buat hari ini kamu mau nemenin aku jalan", gue menatap Elisha seakan gue tak mau melepaskan dia.
"Hati-hati dijalan" ucapnya seraya melambaikan tangan.
****
Terkadang cinta memang harus berjuang itu kata-kata dari diri gue sendiri, dimana gue akan berjuang mendapatkan Elisha cinta pertama gue yang telah bersemayam dihati gue saat ini, gue menjelaskan dengan apa adanya ke Vanya waktu itu, beberapa hari lalu karna tidak bisa menerima cinta nya.
Bahkan gue telah menganggapnya sebagai adek gue bila perlu. Meski gue sering jalan bareng sama Vanya, ngobrol sama Vanya akhir-akhir ini tapi tetep gue tak pernah bisa merasakan jatuh cinta sama dia.
Hati gue terpikat sama Elisha ya wanita itu yang bisa merubah gue jadi Sebastian yang sesungguhnya, dia yang mengajarkan gue arti hidup dengan cinta.
"Bas... Kemaren gue kerumah loe tapi loe ngak ada, kemana aja loe?", Leonard menghampiri rumah gue malem-malem. Entah keluar dari mana yang gue tahu pintu depan terbuka lebar, mungkin Leonard langsung nylonong masuk karna tau ngak ada orang dibawah. Nyokap gue juga belum pulang kalau jam segini.
"Haha...loe nyari gue, gue lupa kasih tahu elo, tadi gue jalan sama Vanya, terus gue juga jalan sama Elisha tapi ngak satu waktu sih hehe", cengir gue.
"Parah loe, keduanya loe embat?!", Leonard memukul pelan bahu gue.
"Ya enggak tapi hati gue udah menentukan siapa yang kelak bersemayam dalam diri gue!", gue bangkit dari tiduran duduk menjajari Leonard.
"Siapa?", tanya Leonard.
"Elisha...", jawab gue santai.
Leonard hanya memandangi gue, berdiri menatap langit gelap melewati jendela kamar.
"Are you serious?, ujarnya kemudian.
"Yap, gue serius". Jawaban gue mantep.
"Emang loe udah tau seberapa dalam tentang Elisha?", Leonard mengintrogasi gue.
"Ya gue tahu keluarganya tapi gue masih belum bisa nembak dia", jelas gue.
"Loe tahu keluarganya, elo udah kerumahnya?", Leonard seakan menjadi oetugas sensus menanyai banyak hal.
"Oke loe percaya ke gue, beberapa hari lalu gue kerumahnya dan gue lihat nyokapnya baik kok". Tatapan gue mendarat ke langit-langit kamar.
"Yakin loe, kalau loe udah bener-bener yakin gue dukung sampai loe berhasil pacarin dia!", jelas Leonard menatap gue.
"Oke fine, gue berjuang sekarang!", celetuk gue.
Dalam diri gue berharap yang baik tentang Elisha, siapa dia yang gue belum tahu kenapa dia hadir begitu aja.
"Gue pulang dulu ya dah larut nih?", Leonard beranjak dari depan jendela.
"Nggak nginep disini aja loe?", gue menawarkan.
"Enggak lagian nih hari ini ada keluarga gue mau dateng kerumah, gue pulang ya, nyokap loe udah pulang belum?", Leonard menambahi.
"Belum tahu gue sekarang baru jam delapan mungkin belum pulang", gue mengira-ngira.
"Okey...bye...sampai besok ya next jangan lupa gue tunggu tanggal jadian loe, kita makan-makan hahaha!", tawa Leonard pecah.
"Hati-hati loe!", gue memperailahkan Leonard pulang.
Setelah gue cerita banyak sama Leonard akhirnya hati gue tenang setidakknya sedikit demi sedikit perasaan dalam gue berkurang.
****
Pagi yang cerah buat gue mengawali hari. Hari ini tepat satu minggu gue mengenal Elisha, sampai saat ini gue masih berharap penuh sama dia, karna dia yang telah mengisi hari-hari gue sampai bisa merubah gue menjadi Bastian yang baik. Dia pula yang membuat gue jatuh hati untuk yang pertama kalinya.
"Aduh...Bastian, kenapa kok senyum-senyum sendiri, kamu sehat?", nyokap tiba-tiba menghampiri gue dihalaman depan.
"Hehehe...ngak apa-apalah, Bastian sehat kok". Gue cuma bisa malu-malu kucing.
Tapi gue rasa kucing ngak pernah bisa malu.
"Gimana sama kenalan kamu?" tanya nyokap.
"Kenalan yang mana?" gue belagak bego.
"Itu loh yang ada dikartu nama yang diatas meja belajar kamu, dia baik?, terus orang tua nya kamu udah mengenalnya?" nyokap memberi banyak pertanyaan udah mirip guru yang memberi soal ujian.
"Aduh...mamah, kalau tanya satu-satu Bastian binggung mau jawab yang mana dulu!", gue memegangi jidat gue sendiri. Hanya senyuman yang nyokap berikan sama gue.
"Orangnya sih baik, terus Bastian juga udah kerumahnya, sempet juga ketwmu sama mamahnya tapi sayang belum tahu namanya hehe", gue menjelaskan.
"Ya udah dikit-dikit aja lagian kamu juga baru kenal kan sama dia, udah sana pergi kuliah?!", suruh nyokap gue.
Seakan gue adalah anak SD yang harus banyak dinasehatin, gue hanya mangut-mangut tanda gue siap buat pergi.
Sinar matahari telah memancarkan sinar, gue melaju dengan kecepatan tinggi menuju kampus.
Tepat dilampu merah gue menghentikan sepeda motor menunggu lampu berubah warna menjadi hijau kira-kira butuh waktu 5 menit untuk melanjutkan perjalanan. Dan benar saja lampu berubah warna menjadi hijau, gue menaikkan kecepatan sampai akhirnya sepeda motor gue berhenti tepat diparkiran.
Disana gue melihat Zidan dan Leonard, gue putuskan untuk menghampirinya.
"Moring bro...?", gue sok inggris.
"Moring too...hahahaha...gimana nih yang lagi kasmaran paginya cerah?!", goda Leonard.
"Hehe...jelas dong harus...", jawab gue santai.
"Lagi kasmaran sama siapa Bas?", Zidan ketinggalan cerita gue.
"Elisha...", Leonard mewakili jawaban gue.
"Siapa tu Elisha?", Zidan menoleh ke arah gue.
"Kenalannya Bastian, panjang ceritanya kalau harus diulang dari awal hehe, bener ngak Bas?!", Leonard menaik turunkan alisnya menatap gue.
"Ohh...terus loe udah jadian sama dia?" Zidan masih penasaran.
"Belum hehehe..." jawab gue sembari cengar-cengir.
"Kantin yuk?" ajak Leonard kemudian.
"Oke...let's go...!", jawab gue serempak sama Zidan.
Sesampainya dikantin gue melihat Vanya duduk sendirian, gue mengajak Zidan dan Leonard menghampirinya.
"Hay Van...?" sapa Leonard.
"Eh hay...hemmzz...ada apa nih, kayak mau demo aja?" ujar Vanya.
"Demo?, ya enggak lah lagian gue sama kedua temen gue cuma pengen nyamperin loe aja, loe sendirian aja?" Zidan memulai obrolan.
"Lagi pengen sendiri aja, sini duduk kok pada berdiri aja ngak capek?!", celoteh Vanya.
"Ya capek...tapi loe katanya mau sendiri?, emang gue sama temen gue ngak ganggu?!" Leonard peka banget.
"Ya enggak lah sini duduk!", ajak Vanya.
Akhirnya pagi ini gue habiskan waktu bersama temen-temen gue entah dari kantin sampai lapangan atau dari lapangan sampai taman kampus.
Jam menunjukkan pukul 11:54 gue berpikir untuk ke rumah Elisha, tapi apa ngak apa-apa? Gue bertanya-tanya.
"Le gue pergi dulu ya?!", karna gue masih bersama Leonard, gue ijin meninggalkan dia sendirian.
"Yahh...elo mau kemana?" Leonard memicingkan mata.
"Biasa gue tiba-tiba kangen sama Elisha, loe disini dulu ntar gue balik lagi kok, loe sama Zidan dulu gih?!", gue bangkit dari duduk menginggalkan Leonard sendirian.
Akhirnya gue menuju jerumah Elisha, didepan rumah Elisha terlihat banyak sepeda motor dan mobil, perasaan gue tadinya tenang karna gue berpikir positif. Gue berdiri sekitar 4 menitan. Gue terjingkat kaget setelah seseorang menepuk pundak gue.
"Mas...ngapain berdiri disini, acaranya kan didalam?" lelaki paruh baya memberitahu gue.
"Maaf mas...lagi ada acara apa ya?" gue makin penasaran.
"Didalem kan lagi ada tunangan mas...saya kesana dulu ya mungkin acaranya akan segera dimulai", lelaki itu pergi ninggalin gue.
"Tunangan...?, jangan-jangan...?, Elisha...?" perasaan gue semakin ngak karuan.
Tanpa aba-aba gue memasuki rumah Elisha dan benar juga seseorang sedang memakaikan cincin dijari manis Elisha, gue yang tak mau merusak acara bahagianya gue putuskan untuk tetap tinggal dan menyaksikan semuanya.
Setelah beberapa jam berlalu, hati gue seakan ter-iris sakit, Elisha menyadari keberadaan gue.
"Abang...dari kapan abang disini?" Elisha terlihat santai, cantik dengan baju yang dikenakannya.
"Dari tadi sebelum memulai acara pertunangan kamu", gue menahan sesak.
"Elisha abang pergi dulu....!" gue pergi berlalu meninggalkan Elisha. Tanpa gue sadari Elisha mengejar gue.
"Abang...tunggu...!" teriaknya.
"Kamu kembali saja, abang ngak kenapa-kenapa, abang cuma kangen sama kamu!", gue berkata jujur atas perasaan gue ke padanya.
"Kangen?" Elisha mengulang kata-kata gue.
"yes actually at this time brother has liked you, you are the way you are, and you can change your brother into the current Bastian, Bastian better! I explained everything You go home first, you take care of yourself, actually you come here, too, you want to express your brother's affection to you, but everything is too late, why doesn't Elisha tell you from the beginning if Elisha already has someone, so she hopes to be filled with his solitude today. You became Elisha's first love, and now you will be a happy memory for your life", gue tak dapat menahan air mata meski gue laki-laki namun ada titik lemahnya jika harus kehilangan orang yang disayangi seperti gue yang tak rela kehilangan Elisha
"Abang...?" Elisha menundukkan kepala.
"forgive my brother if he was presumptuous to say this to you but as long as the same path you feel comfortable and want to always be close to you but now is just a mere wish, I hope you are happy with him brother will always pray for your happiness Elisha thanks for everything you present makes your life colored brother although not forever" gue kembali membuka mulut sebelum Elisha menjawab.
"Brother, I'm sorry Elisha has made my brother disappointed. Elisha is not ready to tell everyone. I hope you will find another love that is better than Elisha", Gue menatap air mata yang tersimpan di kelopak mata Elisha.
Gue pergi meninggalkan Elisha dipinggir jalan, berharap dengan begitu gue bisa melupakan Elisha disana.
"Abang....!" teriak Elisha, sebelum jauh dari hadapannya.
Tanpa sadar Elisha memeluk gue untuk yang pertama kalinya dan menjadi pelukan yang terakhir juga bagi gue.
"Elisha senang kenal abang, abang baik dari awal Elisha membantu abang dirumah kosong itu, Elisha menatap abang Chris sebagai orang baik, semoga abang tak membenci Elisha sekarang, maafkan Elisha jika Elisha memiliki banyak kesalahan abang...", semakin erat pelukan Elisha, dan melepaskan setelah air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Abang sudah Elisha anggap sebagai kakak Elisha sendiri dan maafkan Elisha sekali lagi". Elisha menutup wajahnya menggunakan tangan.
"Abang paham, mungkin Elisha belum siap jika harus jujur apa adanya, tapi satu yang harus Elisha tahu, abang sayang kamu sebagai cinta pertama dan terakhir abang". Gue mencoba melepas kepergian Elisha, mengikhlaskan semua masa lalu hilang begitu aja.
"Ya sudah kamu kembali kerumah dan jangan pikirkan abang, hati abang sudah rela kamu hidup bersama orang lain, selamat tinggal Elisha", gue menyeka air matanya untuk yang terakhir kalinya.
Gue tinggalkan Elisha sekali lagi kali ini tak ada yang menghentikan langkah kaki gue sampai pada tempat dimana sepeda motor gue berada.
Sesampainya di kampus gue menemui Leomard dan Zidan gue ungkapkan segala kesedihan gue, ketulusan gue sekarang dianggap tidak lagi berharga untuk Elisha.
Selamat tinggal Elisha kamu kamu akan menjadi cinta pertama gue, semoga esok akan gue temukan Elisha yang lebih baik dari kamu.
"Sabar Bas, mungkin dia memang bukan jodoh elo, sampai-sampai loe harus merasakan patah hati untuk pertama kalinya", Leonard mencoba menenagkan hati gue.
"Yup...bener apa yang dibilang Leonard, loe harus semangat demi hidup loe, bukan cuma elo gue dan Leonard masih tetap mendukung elo sampai kapanpun!", ujar Zidan.
"Thank kalian memang teman-teman gue yang berharga dari segalanya.
Gue rasa memang inilah akhir dari cerita gue, meninggalkan Vanya yang tulus mencintai gue dan mencoba melupakan Elisha yang kini akan hidup bersama lelaki lain.
Walau sakit hati namun hidup masih gue jalani dengan Sebastian yang lebaih baik, tidak lagi meminum obat terlarang, tidak lagi balapan dan taruhan dan tidak lagi meminum minuman keras. Ini semua berkat Elisha yang menyadarkan gue arti hidup yang sebenarnya.
Sebastian frist love
TAMAT
Jangan lupa vote ya yg baca tp ngk maksa kok dikomen juga gpp
Komentar
Posting Komentar